Sabtu, 23 Mei 2026

Membaca dan Menulis (Kembali)!

Mei 23, 2026 0

 

Lucu rasanya ketika ditanya oleh seseorang:

"Kamu kan lama nih bergabung dengan organisasi literasi? sudah baca berapa buku selama ini? Dan sudah berapa tulisan yang kamu hasilkan selama ini?"


Terdengar lucu sebab yang kami bicarakan hanya hal-hal sederhana. Awalnya pun dimulai karena dia tidak sengaja melihatku sedang membaca buku. Mungkin heran atau mungkin sekadar berbasa-basi, mulailah kami untuk mengobrol panjang lebar. Dari alasanku membaca sampai kondisi daerah kami yang minim literasi (dalam hal membaca khususnya). Benar, membaca! Aku pun terhenran-heran mendekati tak percaya. Bukannya membaca adalah hal yang biasa dilakukan?


Oh, mungkin yang menjadi perhatiannya itu adalah membaca buku cetak. Ya, buku cetak. Padahal di dunia yang serba maju denga gawai yang canggih dan akses internet yang mudah ini menjadikan membaca buku cetak merupakan hal yang ganjil. Kalau perkara ini akupun mengamininya. Tidak dapat disangkal, buku cetak kalah tenar dengan buku versi digital. Selain mudah diakses dan murah harganya, buku digital itu awet dan perawatannya tidak rewel.


Berbeda dengan buku cetak yang harus ditarus tempat yang kering, dibersihkan dengan teratur, dan bahkan diberi sampul agar lebih awet.  Tapi dari segala ketidakmudahannya itu, buku cetak punya penggemarnya sendiri, baik dari yang Generasi 'Purbakala' (begitu anak muda sekarang menyebut orang-orang yang lahir sebelum tahun 2000-an) bahkan Generasi Alpa. Sebab, bagiku pribadi setiap orang punya pilihan dan keinginannya masing-masing yang mendasari semua itu.


Alasan paling dasar yang membuatku memilih buku cetak karena terbiasa. Sejak kecil, di masa sekolah, aku sudah mengenal buku cetak: buku pelajaran dan buku ngaji Iqro'. Di luar itu, ada komik dan koran bekas kiloan yang kadang kubaca saat bapak membawanya pulang dari pasar (katanya buat bungkusan barang). Dari semua itu, mau tidak mau dan suka tidak suka, aku menjadi biasa untuk membaca buku cetak.


Kebiasan ini melekat dengan kehidupanku saat ini, bahkan ketika gawai merajai dunia ini. Dari bangun tidur sampai tidur lagi bahkan dari kerjaan sampai pergaulan di masyarakat. Gawai pasti ada di sekitar kita. Balik lagi, kebiasaan lama tidak bisa berubah drastis. Perlu tahapan proses yang panjang dan memakan waktu yang lama.


Tapi kembali lagi, kebiasaan ini kemudian berlanjut menimbulkan kesenangan yang lain yaitu menulis. Menulis muncul karena segala hal yang kita dapatkan (entah itu dari membaca, melihat, dan, merasakan) perlu disampaikan. Sebenarnya dua hal: menulis dan berbicara. Tapi kita fokuskan pada menulis.  Menulis menjadi pilihanku karena ia adalah jalan sunyi yang menenangkan. Kadang menjadi obat saat pikiran di kepala seperti penguasa lalim yang ingin dituruti.


Sayangnya, aku sudah lama tak melakukannya kedua kebiasaan itu dengan sering, hanya sesekali saja. Itu pun sebatas merangsang pikiran yang yang tumpul oleh dinamika hidup yang ganjil. Seperti keburukan yang dianggap kebaikan oleh sebagian besar orang.


Karenanya, aku ingin memutar kembali.  Tidak hanya sebagai bahan nostalgia, tapi lebih dari itu. Sesuatu yang pernah terkubur di masa lalu. Aku harap bisa melakukannya kali ini. Sebab tak ingin rasanya mengulang rasa penyesalan yang sama.


Anehnya, jalan itu seperti dipermudah. Muncul pilihan-pilihan yang menarik dan sayang kalau dilewatkan. Beberapa teman mengajak untuk aktif kembali untuk berkecimpung di dunia literasi. Memang susah awalnya untuk beradaptasi. Membiasakan diri untuk memhidupkan memori yang telah lama tersingkirkan. Untungnya pijar itu masih menyala. Hangat walau rasanya tak senyaman dulu.

 

Dayung sudah di tangan, perahu sudah di air. Begitu pepatah lama sebagai penyemangatku. Mulailah langkah itu dilakukan satu demi satu. Dari datu kegiatan ke kegiatan lainnya. Aku bertahan, harus bertahan. Salah satunya adalah kelas Baca Tulis Challenge (BATCH) FLP Jatim. Sebuah kegiatan sederhana berupa membaca dan menulis dengan menyetorkan jumlah halaman yang dibaca dan jumlah kata yang ditulis.


Sederhana tapi punya manfaat yang besar. Selain membiasakan diri untuk merutinkan membaca dan menulis, kita diajak untuk 'mengompori' teman-teman yang terkumpul di kelas itu. Dalam kelas kita disuguhkan dengan orang-orang yang mempunyai minat dan kebiasaan yang sama. Programnya pun ada yang berupa tantangan dan hadiah yang seru.


Tentu dengan tantangan dan hadiah yang mampu meningkatkan produktifitas, baik dari kualitas maupun kuantitas baca-tulis itu sendiri.  Kita belajar untuk membangun solidaritas yang kuat dalam kegitan yang kita sukai ini. Sebab, dorangan dan dukungan dari yang lain akan semakin menguatkan langkah kita untuk bertahan dan membiasakan hal-hal yang kita anggap baik. Bahkan yang tadinya saat kondisi kita sedang menurun, banyak yang akan memberi semangat untuk 'memaksa diri' melewati semua itu. Selama kita mau terus bertahan.

Read more...

Kamis, 15 Februari 2018

Ketika Pelita Itu Mendekatimu

Februari 15, 2018 0


Kenyataan dan harapan. Dua hal yang beriringan namun kadang pula berseberangan. Semenjak masa sekolah tingkat pertama, saya mengalaminya. Harapan memberikan sebuah sentuhan ‘magis’ bagi manusia dalam meraih sesuatu. Dan kenyataan, tempat harapan itu bisa terlihat dan dirasakan, semacam jalan hidup. Bukan mimpi-mimpi kosong. Harapan untuk menjadi lebih pintar dari yang lain. Harapan untuk menjadi lebih keren dari yang lain. Dan harapan lain yang datang silih berganti.

Beberapa mungkin jadi kenyataan. Tapi terkadang malah sebaliknya. Dari sana pula mulai tumbuh rasa ketakutan, kecewa, bangga, senang, sedih, dan perasaan lainnya. Perasaan yang kadang membuat manusia menjadi ‘baik’ atau sebaliknya menjadi ‘buruk’.

Harapan pula yang menjadi urat nadi kehidupan. Berawal dari sana, seseorang memulai rangkain catatan hidupnya. Mungkin saja, harapan berbeda dari kenyataan yang dialami. Tapi, dari harapanlah manusia tak akan pernah berhenti untuk hidup dalam kenyataan.

Dan pada sebuah senja, sebuah pertemuan yang tak disangka, awalnya. Hanya sebuah pertemuan iseng yang saya datangi untuk menghabiskan waktu luang saja. Sekaligus menghilangkan rasa bosan selama ini. Namanya asing di telinga, namun entah kenapa ada yang membuat saya betah berlama-lama menikmati pertemuan itu. Pertemuan yang diselenggarakan FLP. Akronim dari Forum Lingkar Pena. Sebuah wadah organisasi yang bergerak di bidang literasi (baca dan tulis).

Selama acara, saya menyimak dan merenungkan tentang banyak hal. Sesekali geleng-geleng kepada saat menemukan hal tak biasa. Kenyataan yang sebelumnya saya anggap biasa saja, mafhum terjadi, berubah menjadi hal mencabik-cabik akal dan nurani. Sebuah kenyataan memilukan tentang negeri ini. Tentang kemiskinan. Tentang buta huruf. Tentang pergaulan anak mudanya. Tentang… banyak hal.

Saya sedih. Tapi tak mampu berbuat apa-apa tentang semua itu. Saya tak berdaya. Saya sadari itu. Kenyataan kadang tak sebaik yang kita kira. Dan cara terbaik untuk mengubah kenyataan yang ada adalah sebuah harapan baru. Sebuah pelita untuk menerangi yang gulita. Pelita itu pun hadir. Salah satunya menjelma menjadi FLP.

Memang, bertambahnya satu organisasi tentu tak memberi dampak banyak, namun setidaknya menerbitkan harapan meski berpendar kecil. Harapan adalah satu hal yang begitu dinantikan negeri ini akhir-akhir ini.

Begitu pula yang saya rasakan ketika menyimak cerita tentang FLP dari hari ke hari. Secara tekun saya coba belajar menulis lagi setelah sekian lama tak ada yang tergores dengan tangan ini. Lalu mengupayakan hadir dalam acara-acaranya dan menjumpai orang-orang yang selama ini memperjuanggan organisasi ini. Bagi saya, mereka orang hebat. lebih hebat dari saya tentunya.

Saya sering bercermin dan menanyakan pertanyaan yang sama: mungkinkan saya sanggup sehebat mereka? atau duduk membersamai mereka yang hebat itu? Mustahil! Kata yang sering muncul kala itu. Namun belakangan, sesekali ada bisik-bisik yang terdengar parau di kejauhan: mungkin saja!

Harapan mungkin saja ada. Dan mungkin saja berpendar kecil. Namun bagi kegelapan yang gulita, ia menjadi cahaya. Saya mulai memberanikan diri "meniru" kegiatan orang-orang hebat ini. Saya baca biografinya di surat-sura kabar, majalah, buku bahkan dunia maya. Mereka mengagumkan. Tidak hanya menguasai literasi bahkan juga paham akan agama Islam. Dua hal yang mulai jarang ditemui. Paduan yang istimewa.

Harapan itu tumbuh menjadi gerak panjang. Mungkin di tengahnya ada rehat sejenak namun yang pasti harus dilanjutkan. Saya jadi teringat pesan seorang kawan yang bergiat di organisasi itu:
“Tugas kita adalah mengenalkan dan membuat literasi disukai banyak orang. Termasuk di dalamnya menjadikan membaca dan menulis kesukaan banyak orang.”

Harapan. Harapan itu akan tumbuh dengan tekad yang bulat dalam dada. Tugas kita memang hanya mengenalkan lalu menjadikan literasi jadi primadona bagi orang-orang. Namun bersama kehadiran FLP, saya menyadari bahwa harapan itu kian terang. Seterang matahari menerangi bumi di saat siang tak berawan. Adalah membuat tulisan yang berkualitas dengan bahasa yang santun merupakan cara paling menyenangkan untuk mengenalkan literasi. Hingga ia menumbuhkan rasa suka di dalam dada tiap orang di negeri ini. Begitulah kiranya yang tertanam dalam benak saya, hingga kini. Saya masih mengupayakannya untuk jadi nyata.[]

Read more...

Kamis, 08 Februari 2018

Kita dan Kebersamaan

Februari 08, 2018 0

Terkadang kita lupa bahwa kebersamaan bukanlah hal yang utama, namun ia penting. Karena kebersamaan punya makna lain yakni kepedulian, kasih sayang atau cinta. Kebersamaan dibutuhkan setiap manusia. Bahkan muncul idiom yang berkembang pesat di dunia global: manusia tidak bisa hidup sendiri. Gambaran singkat ini dapat kita jadikan patokan bahwa kebersamaan tak boleh dianggap sepele.

kebersamaan pula yang akhir-akhir ini menjadi titik permasalahan dipenjuru dunia. Bersebab kurangnya intensitas sebuah kebersamaan, hubungan antar anggota keluarga tak lagi rukun. Atau bahkan dalam dunia luas, para pemegang kuasa tak lagi rukun, mungkin saja penyebabnya adalah kebersamaan pula.

Kebersamaan bisa berarti baik, begitupun juga sebaliknya, berpengaruh buruk. Yang dapat kita syukuri adalah manusia secara lahiriah memang membutuhkan kebersamaan. Seperti bernafas atau minum. Kita ambil contoh paling dekat, ya, yang terdekat semenjak kita baru terlahir ke dunia: Keluarga.

Semenjak bayi, manusia memerlukan kebersamaan dari orang tuanya. Jika tidak ada atau telah ditinggal mati, tentu masih ada paman-bibi dan kakek-nenek. Karena bayi butuh kasih sayang, butuh perhatian, butuh cinta. Itulah nutrisi bagi bayi untuk tumbuh menjadi luar biasa maksimal.

Kita menemukan akhir-akhir ini menemukan fakta mencengangkan, di kota atau di desa dan perkampungan sekalipun. Dari berbagai media kita disuguhkan berbagai pemberitaan yang tak ayal membut dahi mengerut, kriminalitas, moral, bahkan kebiasaan yang tak lazim tumbuh di negeri bercorak ketimuran yang santun, tata krama, gotong-royong dan kekeluargaan. Semua digusur atas nama modernitas.
Sedang di desa tak kalah sengit: modernitas bertemu dengan keluguan lalu berkolaborasi secara intens. Kita bisa simak keadaan desa atau perkampungan ketika libur Hari Raya Idul Fitri. Fenomena baru yang berkembang pesat. Kita menyaksikan dengan nurani tentang bergesernya makna kebersamaan dan kebersamaan. Indikatornya tentu saja, sikap, pola pikir dan cara pandang terhadap sesuatu.

Maka dengan penuh kepiluan, berbagai pihak mengupayakan perbaikan-perbaikan. Semua berupaya maksimal sesuai kemampuan masing-masing. Dan tentu saja kita --walau dengan keterbatasannya, juga bisa ikut mengupayakan perbaikan. Dimulai dari diri sendiri lalu ajak yang terdekat. Untuk memberi contoh atau sekadar menguatkan mereka yang sudah berjuang terlebih dahulu. Bukan berdiri atau malah menjatuhkan mereka yang memperjuangkan kebersamaan, kedekatan atau kesatuan.[]
Read more...

Senin, 30 Oktober 2017

Pertemuan, 2

Oktober 30, 2017 0
unsplash.com/photos/T5lmpSYxnSU

Di tengah putusan padamu
rekah kata-kata
dan mengalir mata air
di bola matamu

Dicari pula pelarian
rinai di peluh tubuhku
membasah masa-masa lalu
sembab sekujur wajah malam

Dalam desah,
lenyap dimakan ragu-ragu
padaku dirimu meneguk mati


(Serambi, 2017)
Read more...

Minggu, 29 Oktober 2017

Seandainya Sudah Diambang Batas

Oktober 29, 2017 0
unsplash.com/photos/n9dBt4g2Ss4

Kereta menepi perlahan, jantung berderap,
apalagi yang bersisa jika sampai di sini.
langkah terhenti, berbalik sejenak,
peron bergeming, menanti aba-aba.

Sukma dan segalanya bersikukuh bertahan,
simpan kata paling senyap:
cinta, katanya.

Semuanya menunggu dengan gelisah,
asap melambung tinggi, pendek dan berbau pekat.
air di langit berjatuhan, memulai dengan rintik lalu deras,
tiada tersisa selain temaram di pandangan, ia tergugu,
stasiun dipandang menjauh.
di sana, kecil sekali, ada yang tak hentinya melepas kepergian.


(Serambi, 2017)
Read more...

Follow Me @orangkomidi