Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Oktober 2017

Pertemuan, 2

Oktober 30, 2017 0
unsplash.com/photos/T5lmpSYxnSU

Di tengah putusan padamu
rekah kata-kata
dan mengalir mata air
di bola matamu

Dicari pula pelarian
rinai di peluh tubuhku
membasah masa-masa lalu
sembab sekujur wajah malam

Dalam desah,
lenyap dimakan ragu-ragu
padaku dirimu meneguk mati


(Serambi, 2017)
Read more...

Minggu, 29 Oktober 2017

Seandainya Sudah Diambang Batas

Oktober 29, 2017 0
unsplash.com/photos/n9dBt4g2Ss4

Kereta menepi perlahan, jantung berderap,
apalagi yang bersisa jika sampai di sini.
langkah terhenti, berbalik sejenak,
peron bergeming, menanti aba-aba.

Sukma dan segalanya bersikukuh bertahan,
simpan kata paling senyap:
cinta, katanya.

Semuanya menunggu dengan gelisah,
asap melambung tinggi, pendek dan berbau pekat.
air di langit berjatuhan, memulai dengan rintik lalu deras,
tiada tersisa selain temaram di pandangan, ia tergugu,
stasiun dipandang menjauh.
di sana, kecil sekali, ada yang tak hentinya melepas kepergian.


(Serambi, 2017)
Read more...

Sabtu, 28 Oktober 2017

Menikam Kenangan yang Disimpan Lubuk Hati

Oktober 28, 2017 0
unsplash.com/photos/ojVMh1QTVGY

Begitu saja jadi renungan bersama, sebuah kisah,
pemuda dan kekasihnya, kaya tapi pemalu.
pada suatu pertunjukan masa kini, tengah hari,
di layar-layar bioskop, di kotamu yang megapolitan.

Sepulangnya, ramai orang mengisahkan kembali,
jalanan penuh lautan kenangan, kisah yang tragis,
pemuda pada kekasihnya, kaya tapi pemalu.

Mulai sudah, kenangan-kenangan itu menjadi tren,
pertokoan modern menjualnya dengan harga: pertukaran.
anak-anak muda berdatangan, membelinya, menukarnya,
dengan kenangan mereka pada kerabat keluarganya,
teman bahkan kekasih mereka.

Jauh di batas kotamu, di sebuah jembatan layang, di malam yang redup,
di bawahnya, seorang pemuda mengumpulkan kenangan yang dibuang,
disusun dengan rapi di dalam rumahnya yang sederhana, bertingkat dua.
pemuda yang mesra bersama kekasihnya, kaya tapi pemalu, di dalamnya.


(Serambi, 2017)
Read more...

Jumat, 27 Oktober 2017

Dimakan dengan Buru-Buru

Oktober 27, 2017 0
unsplash.com/photos/8CwoHpZe3qE

Ombak menari ditepian,menemani debur
yang menghantam batu-batu karang.
Di pasir yang terhampar, nelayan menyiapkan bahtera,
berharap langit masih menyimpan belas kasih.
Pelikan terbang rendah: pertanda.

Pasir masih putih, dan buih surut ke laut,
menyampaikan pesan dari langit pada pantai.
Hujan masih betah di bulan ke sebelas, pekat kali ini.


(Serambi, 2017)
Read more...

Kamis, 26 Oktober 2017

Dibiarkan Menyala

Oktober 26, 2017 0
unsplash.com/photos/N-5x9gDWjs0

Yang terangkat ia terhempas.
dan berjatuhan..

Melompat dari bola kaca,
matamu menjauh: binar.
di bibir merah muda, kini,
dua nyawa memerah.
duanya memandang lekat.
berjatuhan di lantai..
kata...


(Serambi, 2017)
Read more...

Rabu, 25 Oktober 2017

Biarkan Begitu Saja

Oktober 25, 2017 0
unsplash.com/photos/hIJJVnDZQOg

Bila sampai kabar tentangku, di sebuah surat kabar, bukalah. Duduklah di pekarangan rumahmu, cari bangku yang biasa kau duduki. Biarkan awan berlarian di atas sana menyaksikanmu. Eja baik-baik tiap hurufnya, regahlah sampai menemukanku muncul di hadapmu, tersenyum. Sudah itu kumpulkan semua tenagamu yang tersimpan selama ini, rengkuh aku ke dalam dadamu. Biarkan sampai penuh segala rindu. Ambil nafasmu kembali, satu-satu lalu hempaskan begitu saja. Dan telah sempurna kupenuhi kewajibanku, padamu gadisku, hari ini.


(Serambi, 2017)
Read more...

Selasa, 24 Oktober 2017

Untuk yang Pergi

Oktober 24, 2017 0
unsplash.com/photos/s3dVVhFz61Q

Api yang unggun
bergetar
dipangkuan tanganmu
yang basah

Air tumpah
di danau matamu
turun di lesung pipimu
yang rona

Tubuhmu merebak
wangi kesturi
bergetar
sampai langit


(Serambi, 2017)
Read more...

Senin, 23 Oktober 2017

Kupu-Kupu

Oktober 23, 2017 0
unsplash.com/photos/JyG9cU7vnMg

[1]

Tangan-tangan mencengkeram pohonan.
Dipahat dendam pada pagi
yang membikin gusar telinga.

Selang pagi segerombol datang
memaksa masuk.
suaranya tertahan,

Lalu bagai kipasan
tiada yang tersisa malamnya


[2]

Suaranya mengalun lembut
ditelan mulut-mulut yang terbuka.
Bulan purnama meninggi keperakan
membara..

Rerumputan meranggas
menyepi di belukar
sebagian telah rengkuh.

Malam sudah di penghujung
dan suara makin meninggi
tapi lembut
tapi membara..


[3]

Dedaunan gugur bergantian
bersama angin
menguning dihias matahari
di timur, bunga mencium embun
di taman itu telah sepi
kupu-kupu
kembali jadi kepompong


(Serambi, 2017)
Read more...

Minggu, 22 Oktober 2017

Taman

Oktober 22, 2017 0
unsplash.com/search/photos/park

[1]

Tiada yang rintik
di pekaranganmu yang bunga
merah mawar
ke tanah perlahan luruh
mata yang kemarau
bersimpuh dilayar
berkabut


[2]

Di penghujung pekan
tiba waktu berkunjung
kanak-kanak kau tunggu

kau mainkan lagi lagu bahagia
air meriak di kolam wajahmu
berenang di dalamnya ikan bersirip
emas yang memainkan ekornya
menuju jantungku
di sudut tamanmu yang pualam
kau gandeng haru


[3]

Tiada lebih remang dari lampu jalanan
di malam purnama yang memancar kuasa
terasing di malam yang meninggi
melayang menjauh awan kelabu

sia-sia yang dibelenggu
dengan cinta bahkan
lenyap begitu saja
di keheningan
orang-orang tidur
dalam mimpi


[4]

Musim gugur tiba di halaman
aroma dedaunan
terbawa angin basah
dan arakan semut yang berburu
serentak menjemput
lenyap di belukar yang meranggas
tubuhmu menggigil
hendak merenggut tubuhku



(Serambi, 2017)
Read more...

Jumat, 20 Oktober 2017

Angka ketiga

Oktober 20, 2017 0
unsplash.com/photos/3cyKnh4e2MM

Ada sebuah kisah disana
kisah negeri 5 angka
5 angka menjadi makmur
5 angka pribadi bangsa
5 angka dasar Negara

Angka pertama adalah pengakuan terhadap Tuhan
angka kedua adalah pengakuan terhadap manusia
angka ketiga adalah pengakuan terhadap kekuasaan
angka keempat adalah pengakuan terhadap kebersamaan
angka kelima adalah pengakuan terhadap keadilan

Demi angka 3 semua diabaikan


(Madura, 24 Oktober 2011)
Read more...

Kamis, 19 Oktober 2017

Balada Angin

Oktober 19, 2017 0
unsplash.com/photos/M-ry6MXCbek

Malam berjaya bersama suramnya angin
dedaunan bernyanyi dipandu gemericik air
penghuni semesta bersorak riang
“angin hanya mau berhembus”,
bunyi dendangan sorak-sorai itu
semua bibir mencibir
semua mata memandang rendah
semua tak suka
sedang angin kembali
melakukan perintah-Nya


(Madura, 31 Desember 2011)
Read more...

Rabu, 18 Oktober 2017

Bergelayut

Oktober 18, 2017 0
unsplash.com/photos/DN4wKpffIAI

Bergelayut di persimpangan tanganmu
membuatku ingin menyendiri sejenak
menikmati kematian yang singkat dan keabadian hidup
dan di lehermu aku mendaki kehampaan dari yang terlupakan
mengekor kelucuan dari ribuan makluk yang kau cipatakan

Aku bergelayut di keremangan matamu
ada perahu yang berlayar dengan santainya
hendak menerima tumpanganku
melepaskan deru yang tak sampai pada hatimu

Aku masih bergelayut
bukan di tubuhmu tapi
aku menerobos keheninganmu
membawamu pulang kepada yang memberi
aku bergelayut dalam kematianku


(Sumenep, 2013) 
Read more...

Selasa, 17 Oktober 2017

Dahan Burung Merak, 2

Oktober 17, 2017 0
unsplash.com/photos/3iEAGsXRHuM

Hikayat dan rerumputan menjelma kosong yang menerpa bebukitan
yang ditanam dan dibiarkan menjadi gulma yang jamak
menghias dalam tanah yang luput dari aliran air hujan
di akhir kemarau ini

Saksikan pula pohon kering yang besar di hutan itu
pohon tanpa daun hijau atau warna lainnya
dan di dahannya yang mulai diterpa angin
burung merak melamun dan ingin turun dari puncaknya
dirasa telah tak mampu menjadi rumahnya
dengan dinding, pintu, dan jendela yang hilang
di beranda sendiri

Dahan yang hilang pula wajahnya direbut bakal-bakal ranting
:melihat dunia dan melahirkan buah itu
buah merah yang manis
yang hadirnya di dunia
tak pernah nyata



(Bangkalan, 2013)
Read more...

Senin, 16 Oktober 2017

Dalam Jerat

Oktober 16, 2017 0
unsplash.com/photos/wT8lsNXUsM8

Dalam diri yang bebas
masih ada benang-benang yang mengikat
tak terlihat namun kuat menahan langkah
dan bila waktunya tiba,
benang itu menjelma setajam pisau yang mampu membelah asa
jadi keeping tak berdaya

Tidakkah kini kau melihat benang-benang itu sudah sampai lehermu?
menjerat dengan keras tak mau lepas
adakah kini kau menyadari sesuatu yang salah?
membikin jerat tambah kuat

Oh, Indonesiaku yang masih terjerat
adakah kau masih ingin seperti ini?
jeratmu jerat penindasan ketika para pemuda bangkit
lalu dihajar dengan peluru-peluru besi yang katanya bergerak sendiri

Oh, Indonesiaku yang masih terjerat
adakah kau masih ingin sepertiini?
jeratmu jerat keputusasaan ketika para buruh yang bergaji rendah mulai berdemo
lalu diancam bakal jadi penganggurandi jalanan

Oh, Indonesiaku yang masih terjerat
adakah kau masih ingin seperti ini?
jeratmu jerat penantian panjang ketika tanah tempat bepijak telah jadi milik orang asing

Oh, Indonesiaku yang masih terjerat makin kuat
adakah kau masih ingin seperti ini, tanpa perubahan?
jeratmu jerat agar kau terus mengobar perjuangan
untuk para pemuda yang bangkit kembali dari penindasan
untuk para buruh yang demo kembali dari keputusasaan
di tanah tempat pijakan jadi kemenangan


(Madura, 8 Juni 2012)
Read more...

Minggu, 15 Oktober 2017

Dalam Nyata

Oktober 15, 2017 0
unsplash.com/photos/427FJZ0Qk5c

Jika angin dari penjelmaan iblis itu menggerakkan daun
akan ada banyak manusia yang akan terlena
mengaburkan cinta jadi nafsu lalu menidurkan pada birahi
akhir kehidupan manusia

Di tubuh, noda bertambah demi satu
banyak jadi melimpah
menjelmakan iblis wujud manusia
menyeru kebaikan berbaur nafsu

Hilang pula rasa malu
malu yang hadirkan berkas cahaya
menuntun pada cinta-Nya

Lalu adakah yang tak ingin berpaling?
dalam nyata, ada nafsu yang menguasa
ada cinta yang membias jadi nafsu
dan ada pula nafsu yang dikebiri jadi cinta
manusia punya obatnya dalam nyata


(2012)
Read more...

Sabtu, 14 Oktober 2017

Di Dalam Diri Manusia Yang Berilmu

Oktober 14, 2017 0
unsplash.com/photos/O9TEKuI1Icw

Di dalam diri manusia yang berilmu
timbul hasrat ingin belajar
belajar untuk merubah
menjadi seharusnya

Di dalam diri manusia yang berilmu
muncul rasa malu
menutup diri dari dusta
mungunci diri dari nista

Di dalam diri manusia yang berilmu
tiada terbesit takut
kecuali pada Tuhannya
walau dia terdesak

Di dalam diri manusia yang berilmu
ada sifat bijak
menjelma dalam tingkah laku
sopan santun

Di dalam diri manusia yang berilmu
tergambarlah calon manusia surga
menuntun umat menjadi satu barisan
maju dalam satu gerakan


(Bangkalan, 2012)
Read more...

Jumat, 13 Oktober 2017

Di Dekapanmu

Oktober 13, 2017 0
unsplash.com/photos/dR_q93lfaTw

Kali ini rembulan tak menghampiriku
terpekur ia dalam buaian akhir tanggalan
dan di saat itu dekapanmu adalah jelita
jelita yang ramah dengan kehangatan damai

Bagaikan padang ditumbuhi ilalang
menjuntai dalam balutan yang teduh
gerimis suka mendatangi dan tambah hangat
di dekanmu itu menjadi nyata

Dan berikan aku sesaat saja
di dekapanmu aku ingin


(Bangkalan, 22 April 2013)
Read more...

Kamis, 12 Oktober 2017

Di Kamarmu

Oktober 12, 2017 0
unsplash.com/photos/yGUuMIqjIrU

Seperti nyayian kupu-kupu yang melahirkan air, udara menyusup pada selimutmu. Menungguimu dalam malam yang redup di sependar lilin. Tertiup mengikuti alunanku. Alunan untuk laron dan rembulan yang memandangi pekuburan-pekuburunmu. Yang ditimbun kayu-kayu yang dibakar penghuni malam. Menyepikan diri dari malam. Malam yang dilupakan matahari dan bunga-bunga.

Ada yang menyapaku di dekat kolam. Kolam dengan dua ekor ikan. Berdiam di ujung gulita. Sedang kecebong selalu muncul dan bertanya pada permukaan air: “kenapa aku tertinggal?” Dan kunang-kunang mencelupkan warna pada malam. Yang menjadikannya bertubuh kuning dan terang. Dan rerumputan bergoyang ke arahnya. Menuntun pada mimpi. Mimpi sebelum tidur.

Dan di selimutmu ada yang lahir. Bernyawa merah dan bertubuh ungu. Aku seperti menyebutmu berulang kali di penghujung lilin. Yang tadi pagi menutup diri. Dibujuk angin untuk lelap di tidurnya. Menyisakan abu yang melingkari tubuhmu. Hijau muda. Dan gerai rambutmu memberi tahu bahwa aku tidak melahirkan pagi. Yang membuatmu terbangun di siang hari.


(Bangkalan, 2013)
Read more...

Rabu, 11 Oktober 2017

Di Negeri Ini

Oktober 11, 2017 0
unsplash.com/photos/FUEapNCrnkY

Hidup di negeri ini seperti mimpi
aku bisa melihat pelangi setiap waktu
pelangi dari suku-suku
pelangi dari bangsa-bangsa
dan pelangi itu mempesona di sini

Hidup di negeri ini seperti mimpi
aku bisa mendengar orkestra setiap waktu
orkestra dari suku-suku
orkestra dari bangsa-bangsa
dan orkestra itu merdu di sini

Hidup di negeri ini seperti mimpi
aku bisa merasakan hangatnya persaudaraan
lalu ditutup rintik-rintik rasa rindu yang menyegarkan

Di sini, aku merasa hidup untuk bersama
menyatu dalam banyak hal
dan hidup di negeri ini memang seperti mimpi


(Bangkalan, 18 April 2013)
Read more...

Selasa, 10 Oktober 2017

Diam

Oktober 10, 2017 0
unsplash.com/photos/aDUZbFgW3u4

Aku melangkah mencari uang
tadi terlupa jatuh entah di mana
pikirku yang kacau
mungkin itu sebabnya

Aku melangkah mencari mimpi
kemarin terlupa hinggap di mana
diriku yang bimbang
mungkin itu masalahnya

Aku melangkah mencari ibu
terlupa entah kutinggal di mana
hidupku yang susah
mungkin itu penyebabnya

Asa berlari menjauh
tinggal rupa tanpa rasa

Di sini tergeletak masa lalu terlupa
disayat dosa serupa pisau
sayatannya menjadi luka
luka yang risau

Berharap semua serupa sungai
alirannya mampu menenengkan mata


(Bangkalan, 2012)
Read more...

Follow Me @orangkomidi