Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Senin, 30 Oktober 2017
Minggu, 29 Oktober 2017
Puisi
(Serambi, 2017)
Read more...
Seandainya Sudah Diambang Batas
apalagi yang bersisa jika sampai di sini.
langkah terhenti, berbalik sejenak,
peron bergeming, menanti aba-aba.
Sukma dan segalanya bersikukuh bertahan,
simpan kata paling senyap:
cinta, katanya.
Semuanya menunggu dengan gelisah,
asap melambung tinggi, pendek dan berbau pekat.
air di langit berjatuhan, memulai dengan rintik lalu deras,
tiada tersisa selain temaram di pandangan, ia tergugu,
stasiun dipandang menjauh.
di sana, kecil sekali, ada yang tak hentinya melepas kepergian.
Sabtu, 28 Oktober 2017
Puisi
(Serambi, 2017)
Read more...
Menikam Kenangan yang Disimpan Lubuk Hati
pemuda dan
kekasihnya, kaya tapi pemalu.
pada suatu
pertunjukan masa kini, tengah hari,
di
layar-layar bioskop, di kotamu yang megapolitan.
Sepulangnya,
ramai orang mengisahkan kembali,
jalanan
penuh lautan kenangan, kisah yang tragis,
pemuda pada
kekasihnya, kaya tapi pemalu.
Mulai sudah,
kenangan-kenangan itu menjadi tren,
pertokoan
modern menjualnya dengan harga: pertukaran.
anak-anak
muda berdatangan, membelinya, menukarnya,
dengan
kenangan mereka pada kerabat keluarganya,
teman bahkan
kekasih mereka.
Jauh di
batas kotamu, di sebuah jembatan layang, di malam yang redup,
di bawahnya,
seorang pemuda mengumpulkan kenangan yang dibuang,
disusun
dengan rapi di dalam rumahnya yang sederhana, bertingkat dua.
pemuda yang
mesra bersama kekasihnya, kaya tapi pemalu, di dalamnya.
(Serambi, 2017)
Jumat, 27 Oktober 2017
Puisi
(Serambi, 2017)
Read more...
Dimakan dengan Buru-Buru
yang
menghantam batu-batu karang.
Di pasir
yang terhampar, nelayan menyiapkan bahtera,
berharap
langit masih menyimpan belas kasih.
Pelikan
terbang rendah: pertanda.
Pasir masih
putih, dan buih surut ke laut,
menyampaikan
pesan dari langit pada pantai.
Hujan masih
betah di bulan ke sebelas, pekat kali ini.
(Serambi, 2017)
Kamis, 26 Oktober 2017
Rabu, 25 Oktober 2017
Puisi
(Serambi, 2017)
Read more...
Biarkan Begitu Saja
Bila sampai kabar tentangku, di sebuah surat kabar, bukalah.
Duduklah di pekarangan rumahmu, cari bangku yang biasa kau duduki. Biarkan awan
berlarian di atas sana menyaksikanmu. Eja baik-baik tiap hurufnya, regahlah
sampai menemukanku muncul di hadapmu, tersenyum. Sudah itu kumpulkan semua
tenagamu yang tersimpan selama ini, rengkuh aku ke dalam dadamu. Biarkan sampai
penuh segala rindu. Ambil nafasmu kembali, satu-satu lalu hempaskan begitu
saja. Dan telah sempurna kupenuhi kewajibanku, padamu gadisku, hari ini.
(Serambi, 2017)
Selasa, 24 Oktober 2017
Senin, 23 Oktober 2017
Puisi
(Serambi, 2017)
Read more...
Kupu-Kupu
Tangan-tangan
mencengkeram pohonan.
Dipahat
dendam pada pagi
yang
membikin gusar telinga.
Selang pagi
segerombol datang
memaksa
masuk.
suaranya
tertahan,
Lalu bagai
kipasan
tiada yang
tersisa malamnya
[2]
Suaranya
mengalun lembut
ditelan
mulut-mulut yang terbuka.
Bulan
purnama meninggi keperakan
membara..
Rerumputan
meranggas
menyepi di
belukar
sebagian
telah rengkuh.
Malam sudah
di penghujung
dan suara
makin meninggi
tapi lembut
tapi
membara..
[3]
Dedaunan
gugur bergantian
bersama
angin
menguning
dihias matahari
di timur,
bunga mencium embun
di taman itu
telah sepi
kupu-kupu
kembali jadi
kepompong
Minggu, 22 Oktober 2017
Puisi
Read more...
Taman
Tiada yang rintik
di
pekaranganmu yang bunga
merah mawar
ke tanah
perlahan luruh
mata yang
kemarau
bersimpuh
dilayar
berkabut
[2]
Di penghujung
pekan
tiba waktu
berkunjung
kanak-kanak kau
tunggu
kau mainkan
lagi lagu bahagia
air meriak
di kolam wajahmu
berenang di
dalamnya ikan bersirip
emas yang
memainkan ekornya
menuju
jantungku
di sudut
tamanmu yang pualam
kau gandeng
haru
[3]
Tiada lebih
remang dari lampu jalanan
di malam purnama
yang memancar kuasa
terasing di
malam yang meninggi
melayang
menjauh awan kelabu
sia-sia yang
dibelenggu
dengan cinta
bahkan
lenyap
begitu saja
di
keheningan
orang-orang
tidur
dalam mimpi
[4]
Musim gugur
tiba di halaman
aroma
dedaunan
terbawa angin
basah
dan arakan
semut yang berburu
serentak
menjemput
lenyap di
belukar yang meranggas
tubuhmu
menggigil
hendak
merenggut tubuhku
(Serambi,
2017)
Jumat, 20 Oktober 2017
Puisi
Read more...
Angka ketiga
kisah negeri 5 angka
5 angka menjadi makmur
5 angka pribadi bangsa
5 angka dasar Negara
Angka pertama adalah
pengakuan terhadap Tuhan
angka kedua adalah
pengakuan terhadap manusia
angka ketiga adalah
pengakuan terhadap kekuasaan
angka keempat adalah
pengakuan terhadap kebersamaan
angka kelima adalah
pengakuan terhadap keadilan
Demi angka 3 semua
diabaikan
(Madura, 24 Oktober 2011)
Kamis, 19 Oktober 2017
Puisi
Read more...
Balada Angin
dedaunan bernyanyi dipandu gemericik air
penghuni semesta bersorak riang
“angin hanya mau berhembus”,
bunyi dendangan sorak-sorai itu
semua bibir mencibir
semua mata memandang rendah
semua tak suka
sedang angin kembali
melakukan perintah-Nya
penghuni semesta bersorak riang
“angin hanya mau berhembus”,
bunyi dendangan sorak-sorai itu
semua bibir mencibir
semua mata memandang rendah
semua tak suka
sedang angin kembali
melakukan perintah-Nya
(Madura, 31 Desember 2011)
Rabu, 18 Oktober 2017
Puisi
Read more...
Bergelayut
membuatku ingin menyendiri sejenak
menikmati kematian yang singkat dan keabadian hidup
dan di lehermu aku mendaki kehampaan dari yang
terlupakan
mengekor kelucuan dari ribuan makluk yang kau
cipatakan
Aku bergelayut di keremangan matamu
ada perahu yang berlayar dengan santainya
hendak menerima tumpanganku
melepaskan deru yang tak sampai pada hatimu
Aku masih bergelayut
bukan di tubuhmu tapi
aku menerobos keheninganmu
membawamu pulang kepada yang memberi
aku bergelayut dalam kematianku
(Sumenep, 2013)
Selasa, 17 Oktober 2017
Puisi
Read more...
Dahan Burung Merak, 2
yang ditanam dan dibiarkan
menjadi gulma yang jamak
menghias dalam tanah
yang luput dari aliran air hujan
di akhir kemarau ini
Saksikan pula pohon
kering yang besar di hutan itu
pohon tanpa daun hijau
atau warna lainnya
dan di dahannya yang
mulai diterpa angin
burung merak melamun
dan ingin turun dari puncaknya
dirasa telah tak mampu
menjadi rumahnya
dengan dinding, pintu,
dan jendela yang hilang
di beranda sendiri
Dahan yang hilang pula
wajahnya direbut bakal-bakal ranting
:melihat dunia dan
melahirkan buah itu
buah merah yang manis
yang hadirnya di dunia
tak pernah nyata
(Bangkalan, 2013)
Senin, 16 Oktober 2017
Puisi
Read more...
Dalam Jerat
masih
ada benang-benang yang mengikat
tak
terlihat namun kuat menahan langkah
dan
bila waktunya tiba,
benang
itu menjelma setajam pisau yang mampu membelah asa
jadi
keeping tak berdaya
Tidakkah
kini kau melihat benang-benang itu sudah sampai lehermu?
menjerat
dengan keras tak mau lepas
adakah
kini kau menyadari sesuatu yang salah?
membikin
jerat tambah kuat
Oh,
Indonesiaku yang masih terjerat
adakah
kau masih ingin seperti ini?
jeratmu
jerat penindasan ketika para pemuda bangkit
lalu
dihajar dengan peluru-peluru besi yang katanya bergerak sendiri
Oh,
Indonesiaku yang masih terjerat
adakah
kau masih ingin sepertiini?
jeratmu
jerat keputusasaan ketika para buruh yang bergaji rendah mulai berdemo
lalu
diancam bakal jadi penganggurandi jalanan
Oh,
Indonesiaku yang masih terjerat
adakah
kau masih ingin seperti ini?
jeratmu
jerat penantian panjang ketika tanah tempat bepijak telah jadi milik orang
asing
Oh,
Indonesiaku yang masih terjerat makin kuat
adakah
kau masih ingin seperti ini, tanpa perubahan?
jeratmu
jerat agar kau terus mengobar perjuangan
untuk
para pemuda yang bangkit kembali dari penindasan
untuk
para buruh yang demo kembali dari keputusasaan
di
tanah tempat pijakan jadi kemenangan
(Madura, 8 Juni 2012)
Minggu, 15 Oktober 2017
Puisi
Read more...
Dalam Nyata
akan ada banyak manusia yang akan
terlena
mengaburkan cinta jadi nafsu lalu
menidurkan pada birahi
akhir kehidupan manusia
Di tubuh, noda bertambah demi satu
banyak jadi melimpah
menjelmakan iblis wujud manusia
menyeru kebaikan berbaur nafsu
Hilang pula rasa malu
malu yang hadirkan berkas cahaya
menuntun pada cinta-Nya
Lalu adakah yang tak ingin berpaling?
dalam nyata, ada nafsu yang menguasa
ada cinta yang membias jadi nafsu
dan ada pula nafsu yang dikebiri jadi
cinta
manusia punya obatnya dalam nyata
(2012)
Sabtu, 14 Oktober 2017
Puisi
Read more...
Di Dalam Diri Manusia Yang Berilmu
timbul hasrat ingin belajar
belajar untuk merubah
menjadi seharusnya
Di dalam diri manusia yang berilmu
muncul rasa malu
menutup diri dari dusta
mungunci diri dari nista
Di dalam diri manusia yang berilmu
tiada terbesit takut
kecuali pada Tuhannya
walau dia terdesak
Di dalam diri manusia yang berilmu
ada sifat bijak
menjelma dalam tingkah laku
sopan santun
Di dalam diri manusia yang berilmu
tergambarlah calon manusia surga
menuntun umat menjadi satu barisan
maju dalam satu gerakan
(Bangkalan, 2012)
Jumat, 13 Oktober 2017
Puisi
Read more...
Di Dekapanmu
terpekur ia dalam buaian akhir tanggalan
dan di saat itu dekapanmu adalah jelita
jelita yang ramah dengan kehangatan damai
Bagaikan padang ditumbuhi ilalang
menjuntai dalam balutan yang teduh
gerimis suka mendatangi dan tambah hangat
di dekanmu itu menjadi nyata
Dan berikan aku sesaat saja
di dekapanmu aku ingin
(Bangkalan, 22 April 2013)
Kamis, 12 Oktober 2017
Puisi
Seperti nyayian kupu-kupu yang melahirkan air, udara menyusup pada selimutmu. Menungguimu dalam malam yang redup di sependar lilin. Tertiup mengikuti alunanku. Alunan untuk laron dan rembulan yang memandangi pekuburan-pekuburunmu. Yang ditimbun kayu-kayu yang dibakar penghuni malam. Menyepikan diri dari malam. Malam yang dilupakan matahari dan bunga-bunga.
Read more...
Di Kamarmu
Seperti nyayian kupu-kupu yang melahirkan air, udara menyusup pada selimutmu. Menungguimu dalam malam yang redup di sependar lilin. Tertiup mengikuti alunanku. Alunan untuk laron dan rembulan yang memandangi pekuburan-pekuburunmu. Yang ditimbun kayu-kayu yang dibakar penghuni malam. Menyepikan diri dari malam. Malam yang dilupakan matahari dan bunga-bunga.
Ada yang
menyapaku di dekat kolam. Kolam dengan dua ekor ikan. Berdiam di ujung gulita.
Sedang kecebong selalu muncul dan bertanya pada permukaan air: “kenapa aku
tertinggal?” Dan kunang-kunang mencelupkan warna pada malam. Yang menjadikannya
bertubuh kuning dan terang. Dan rerumputan bergoyang ke arahnya. Menuntun pada
mimpi. Mimpi sebelum tidur.
Dan di selimutmu
ada yang lahir. Bernyawa merah dan bertubuh ungu. Aku seperti menyebutmu
berulang kali di penghujung lilin. Yang tadi pagi menutup diri. Dibujuk angin
untuk lelap di tidurnya. Menyisakan abu yang melingkari tubuhmu. Hijau muda.
Dan gerai rambutmu memberi tahu bahwa aku tidak melahirkan pagi. Yang membuatmu
terbangun di siang hari.
(Bangkalan,
2013)
Rabu, 11 Oktober 2017
Puisi
Read more...
Di Negeri Ini
aku bisa melihat pelangi setiap waktu
pelangi dari suku-suku
pelangi dari bangsa-bangsa
dan pelangi itu mempesona di sini
Hidup di negeri ini seperti mimpi
aku bisa mendengar orkestra setiap waktu
orkestra dari suku-suku
orkestra dari bangsa-bangsa
dan orkestra itu merdu di sini
Hidup di negeri ini seperti mimpi
aku bisa merasakan hangatnya persaudaraan
lalu ditutup rintik-rintik rasa rindu yang menyegarkan
Di sini, aku merasa hidup untuk bersama
menyatu dalam banyak hal
dan hidup di negeri ini memang seperti mimpi
(Bangkalan, 18 April 2013)
Selasa, 10 Oktober 2017
Puisi
Read more...
Diam
tadi terlupa jatuh
entah di mana
pikirku yang kacau
mungkin itu sebabnya
Aku melangkah mencari
mimpi
kemarin terlupa
hinggap di mana
diriku yang bimbang
mungkin itu masalahnya
Aku melangkah mencari
ibu
terlupa entah kutinggal
di mana
hidupku yang susah
mungkin itu
penyebabnya
Asa berlari menjauh
tinggal rupa tanpa
rasa
Di sini tergeletak
masa lalu terlupa
disayat dosa serupa
pisau
sayatannya menjadi
luka
luka yang risau
Berharap semua serupa
sungai
alirannya mampu menenengkan
mata
(Bangkalan, 2012)




















