pemuda dan
kekasihnya, kaya tapi pemalu.
pada suatu
pertunjukan masa kini, tengah hari,
di
layar-layar bioskop, di kotamu yang megapolitan.
Sepulangnya,
ramai orang mengisahkan kembali,
jalanan
penuh lautan kenangan, kisah yang tragis,
pemuda pada
kekasihnya, kaya tapi pemalu.
Mulai sudah,
kenangan-kenangan itu menjadi tren,
pertokoan
modern menjualnya dengan harga: pertukaran.
anak-anak
muda berdatangan, membelinya, menukarnya,
dengan
kenangan mereka pada kerabat keluarganya,
teman bahkan
kekasih mereka.
Jauh di
batas kotamu, di sebuah jembatan layang, di malam yang redup,
di bawahnya,
seorang pemuda mengumpulkan kenangan yang dibuang,
disusun
dengan rapi di dalam rumahnya yang sederhana, bertingkat dua.
pemuda yang
mesra bersama kekasihnya, kaya tapi pemalu, di dalamnya.
(Serambi, 2017)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar