Kenyataan dan
harapan. Dua hal yang beriringan namun kadang pula berseberangan. Semenjak masa
sekolah tingkat pertama, saya mengalaminya. Harapan memberikan sebuah sentuhan ‘magis’
bagi manusia dalam meraih sesuatu. Dan kenyataan, tempat harapan itu bisa
terlihat dan dirasakan, semacam jalan hidup. Bukan mimpi-mimpi kosong. Harapan untuk
menjadi lebih pintar dari yang lain. Harapan untuk menjadi lebih keren dari
yang lain. Dan harapan lain yang datang silih berganti.
Beberapa mungkin
jadi kenyataan. Tapi terkadang malah sebaliknya. Dari sana pula mulai tumbuh
rasa ketakutan, kecewa, bangga, senang, sedih, dan perasaan lainnya. Perasaan yang
kadang membuat manusia menjadi ‘baik’ atau sebaliknya menjadi ‘buruk’.
Harapan pula
yang menjadi urat nadi kehidupan. Berawal dari sana, seseorang memulai rangkain
catatan hidupnya. Mungkin saja, harapan berbeda dari kenyataan yang dialami. Tapi,
dari harapanlah manusia tak akan pernah berhenti untuk hidup dalam kenyataan.
Dan pada sebuah senja,
sebuah pertemuan yang tak disangka, awalnya. Hanya sebuah pertemuan iseng yang
saya datangi untuk menghabiskan waktu luang saja. Sekaligus menghilangkan rasa
bosan selama ini. Namanya asing di telinga, namun entah kenapa ada yang membuat
saya betah berlama-lama menikmati pertemuan itu. Pertemuan yang diselenggarakan
FLP. Akronim dari Forum Lingkar Pena. Sebuah wadah organisasi yang bergerak di
bidang literasi (baca dan tulis).
Selama acara,
saya menyimak dan merenungkan tentang banyak hal. Sesekali geleng-geleng kepada
saat menemukan hal tak biasa. Kenyataan yang sebelumnya saya anggap biasa saja,
mafhum terjadi, berubah menjadi hal mencabik-cabik akal dan nurani. Sebuah kenyataan
memilukan tentang negeri ini. Tentang kemiskinan. Tentang buta huruf. Tentang pergaulan
anak mudanya. Tentang… banyak hal.
Saya sedih. Tapi
tak mampu berbuat apa-apa tentang semua itu. Saya tak berdaya. Saya sadari itu.
Kenyataan kadang tak sebaik yang kita kira. Dan cara terbaik untuk mengubah
kenyataan yang ada adalah sebuah harapan baru. Sebuah pelita untuk menerangi
yang gulita. Pelita itu pun hadir. Salah satunya menjelma menjadi FLP.
Memang, bertambahnya
satu organisasi tentu tak memberi dampak banyak, namun setidaknya menerbitkan
harapan meski berpendar kecil. Harapan adalah satu hal yang begitu dinantikan
negeri ini akhir-akhir ini.
Begitu pula yang
saya rasakan ketika menyimak cerita tentang FLP dari hari ke hari. Secara tekun
saya coba belajar menulis lagi setelah sekian lama tak ada yang tergores dengan
tangan ini. Lalu mengupayakan hadir dalam acara-acaranya dan menjumpai
orang-orang yang selama ini memperjuanggan organisasi ini. Bagi saya, mereka
orang hebat. lebih hebat dari saya tentunya.
Saya sering
bercermin dan menanyakan pertanyaan yang sama: mungkinkan saya sanggup sehebat mereka? atau duduk membersamai mereka yang
hebat itu? Mustahil! Kata yang sering muncul kala itu. Namun belakangan,
sesekali ada bisik-bisik yang terdengar parau di kejauhan: mungkin saja!
Harapan mungkin
saja ada. Dan mungkin saja berpendar kecil. Namun bagi kegelapan yang gulita,
ia menjadi cahaya. Saya mulai memberanikan diri "meniru" kegiatan
orang-orang hebat ini. Saya baca biografinya di surat-sura kabar, majalah, buku
bahkan dunia maya. Mereka mengagumkan. Tidak hanya menguasai literasi bahkan
juga paham akan agama Islam. Dua hal yang mulai jarang ditemui. Paduan yang
istimewa.
Harapan itu
tumbuh menjadi gerak panjang. Mungkin di tengahnya ada rehat sejenak namun yang
pasti harus dilanjutkan. Saya jadi teringat pesan seorang kawan yang bergiat di
organisasi itu:
“Tugas
kita adalah mengenalkan dan membuat literasi disukai banyak orang. Termasuk di
dalamnya menjadikan membaca dan menulis kesukaan banyak orang.”
Harapan. Harapan
itu akan tumbuh dengan tekad yang bulat dalam dada. Tugas kita memang hanya
mengenalkan lalu menjadikan literasi jadi primadona bagi orang-orang. Namun
bersama kehadiran FLP, saya menyadari bahwa harapan itu kian terang. Seterang
matahari menerangi bumi di saat siang tak berawan. Adalah membuat tulisan yang
berkualitas dengan bahasa yang santun merupakan cara paling menyenangkan untuk
mengenalkan literasi. Hingga ia menumbuhkan rasa suka di dalam dada tiap orang
di negeri ini. Begitulah kiranya yang tertanam dalam benak saya, hingga kini.
Saya masih mengupayakannya untuk jadi nyata.[]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar