Kamis, 15 Februari 2018

#

Ketika Pelita Itu Mendekatimu



Kenyataan dan harapan. Dua hal yang beriringan namun kadang pula berseberangan. Semenjak masa sekolah tingkat pertama, saya mengalaminya. Harapan memberikan sebuah sentuhan ‘magis’ bagi manusia dalam meraih sesuatu. Dan kenyataan, tempat harapan itu bisa terlihat dan dirasakan, semacam jalan hidup. Bukan mimpi-mimpi kosong. Harapan untuk menjadi lebih pintar dari yang lain. Harapan untuk menjadi lebih keren dari yang lain. Dan harapan lain yang datang silih berganti.

Beberapa mungkin jadi kenyataan. Tapi terkadang malah sebaliknya. Dari sana pula mulai tumbuh rasa ketakutan, kecewa, bangga, senang, sedih, dan perasaan lainnya. Perasaan yang kadang membuat manusia menjadi ‘baik’ atau sebaliknya menjadi ‘buruk’.

Harapan pula yang menjadi urat nadi kehidupan. Berawal dari sana, seseorang memulai rangkain catatan hidupnya. Mungkin saja, harapan berbeda dari kenyataan yang dialami. Tapi, dari harapanlah manusia tak akan pernah berhenti untuk hidup dalam kenyataan.

Dan pada sebuah senja, sebuah pertemuan yang tak disangka, awalnya. Hanya sebuah pertemuan iseng yang saya datangi untuk menghabiskan waktu luang saja. Sekaligus menghilangkan rasa bosan selama ini. Namanya asing di telinga, namun entah kenapa ada yang membuat saya betah berlama-lama menikmati pertemuan itu. Pertemuan yang diselenggarakan FLP. Akronim dari Forum Lingkar Pena. Sebuah wadah organisasi yang bergerak di bidang literasi (baca dan tulis).

Selama acara, saya menyimak dan merenungkan tentang banyak hal. Sesekali geleng-geleng kepada saat menemukan hal tak biasa. Kenyataan yang sebelumnya saya anggap biasa saja, mafhum terjadi, berubah menjadi hal mencabik-cabik akal dan nurani. Sebuah kenyataan memilukan tentang negeri ini. Tentang kemiskinan. Tentang buta huruf. Tentang pergaulan anak mudanya. Tentang… banyak hal.

Saya sedih. Tapi tak mampu berbuat apa-apa tentang semua itu. Saya tak berdaya. Saya sadari itu. Kenyataan kadang tak sebaik yang kita kira. Dan cara terbaik untuk mengubah kenyataan yang ada adalah sebuah harapan baru. Sebuah pelita untuk menerangi yang gulita. Pelita itu pun hadir. Salah satunya menjelma menjadi FLP.

Memang, bertambahnya satu organisasi tentu tak memberi dampak banyak, namun setidaknya menerbitkan harapan meski berpendar kecil. Harapan adalah satu hal yang begitu dinantikan negeri ini akhir-akhir ini.

Begitu pula yang saya rasakan ketika menyimak cerita tentang FLP dari hari ke hari. Secara tekun saya coba belajar menulis lagi setelah sekian lama tak ada yang tergores dengan tangan ini. Lalu mengupayakan hadir dalam acara-acaranya dan menjumpai orang-orang yang selama ini memperjuanggan organisasi ini. Bagi saya, mereka orang hebat. lebih hebat dari saya tentunya.

Saya sering bercermin dan menanyakan pertanyaan yang sama: mungkinkan saya sanggup sehebat mereka? atau duduk membersamai mereka yang hebat itu? Mustahil! Kata yang sering muncul kala itu. Namun belakangan, sesekali ada bisik-bisik yang terdengar parau di kejauhan: mungkin saja!

Harapan mungkin saja ada. Dan mungkin saja berpendar kecil. Namun bagi kegelapan yang gulita, ia menjadi cahaya. Saya mulai memberanikan diri "meniru" kegiatan orang-orang hebat ini. Saya baca biografinya di surat-sura kabar, majalah, buku bahkan dunia maya. Mereka mengagumkan. Tidak hanya menguasai literasi bahkan juga paham akan agama Islam. Dua hal yang mulai jarang ditemui. Paduan yang istimewa.

Harapan itu tumbuh menjadi gerak panjang. Mungkin di tengahnya ada rehat sejenak namun yang pasti harus dilanjutkan. Saya jadi teringat pesan seorang kawan yang bergiat di organisasi itu:
“Tugas kita adalah mengenalkan dan membuat literasi disukai banyak orang. Termasuk di dalamnya menjadikan membaca dan menulis kesukaan banyak orang.”

Harapan. Harapan itu akan tumbuh dengan tekad yang bulat dalam dada. Tugas kita memang hanya mengenalkan lalu menjadikan literasi jadi primadona bagi orang-orang. Namun bersama kehadiran FLP, saya menyadari bahwa harapan itu kian terang. Seterang matahari menerangi bumi di saat siang tak berawan. Adalah membuat tulisan yang berkualitas dengan bahasa yang santun merupakan cara paling menyenangkan untuk mengenalkan literasi. Hingga ia menumbuhkan rasa suka di dalam dada tiap orang di negeri ini. Begitulah kiranya yang tertanam dalam benak saya, hingga kini. Saya masih mengupayakannya untuk jadi nyata.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Follow Me @orangkomidi