Aku merindukanmu. Kehadiranmu. Mungkin lebih. Atau hanya perlu percakapan yang sia-sia. Seperti dulu. Membuang waktu. Waktu yang makin berkurang. Waktuku yang makin menipis. Setipis dedaunan pohon pisang yang ditanam olehku dan juga kamu. Di samping rumahku. Yang biasa kita sebut, Taman Bermain. Yang dulu menjadi tempat bermain kita. Satu-satunya tempat bermain kita. Menghabiskan masa kecil. Hanya tawa. Tawa yang menggema sebelum senja jadi malam. Saat orang tua kita sudah memanggil. Ibuku dan ayahmu. Ibuku yang janda dan ayahmu yang duda.
Masih ingat aku pada masa silam. Ketika itu, pertama kali kita bertemu. Mengenal satu sama lain. Kamu pemalu. Aku tak peduli. Kita benar-benar jadi pasangan yang tak menghiraukan. Aku jadi tersenyum sendiri ketika mengingat itu. Perjumpaan awal bagi perjumpaan selanjutnya.
Perjumpaan yang selalu dilakukan di Taman Bermain. Sempat berulang kali aku menawarkan tempat lain, semisal rumahmu—yang berjarak dua rumah saja dari rumahku, untuk menghilangkan kejenuhanku. Namun kamu menolaknya. Dalihmu, Taman Bermain lebih asyik untuk tempat bermain kita. Ah, tak apalah pikirku. Toh, kita masih tetap bermain bersama. Sekaligus perjumpaan yang mengesan bagiku. Entah bagimu. Yang jelas, aku senang kehadiranmu di dekatku. Kita benar-benar menghabiskan waktu untuk bermain. Hanya bermain. Sayangnya, kamu tidak berpikir sepertiku. Bagimu, yang kita lakukan adalah menjadi manusia. Manusia kreatif. Imbuhmu yang disusul senyuman lebarmu. Dan mendengar ucapanmu itu, aku hanya bisa tersenyum juga. Tambah satu lagi beban di kepalaku. Tidak tahu akan ucapanmu. Hm, manusia kreatif. Seperti apa gerangan bentuknya?
Kamu dengan sabar menjelaskannya padaku. Namun, aku hanya melihatmu memainkan sebuah tongkat. Tongkat yang kamu ambil dari dahan pohon yang jatuh berserakan di dekatmu. Kamu ayunkan tongkat itu. Kanan. Kiri. Samping. Depan. Belakang. Serong. Wah, aku sampai tidak dapat mengingat dengan jelas urutan ayunanmu. Lalu kamu bilang padaku bahwa tongkat itu sebuah masa depan. Aku menatapmu bingung. Bingung dengan ucapanmu tadi. Ucapan yang menurutku ganjil. Menurutku, yang saat itu baru tamat taman kanak-kanak sepertimu juga, masa depan terlalu jauh untuk dipastikan. Masa depan dan ayunan tongkatmu.
-o0o-
“Kamu mau kemana semalam ini?”, ucapmu ketika melihatku berjalan malam itu. Malam dengan raut gelapnya yang menyeluruh. Aku hanya tersenyum dan membiarkannya bergelut dengan pikiranmu. Pikiranmu yang sedang mengolah dengan berat. Hingga ada kerutan di dahimu. Atau ke-tidak-mengerti-anmu terhadapku. Yang semuanya berasal dariku. Dari caraku membalas pertanyaanmu tadi. Pertanyaan yang tak ingin benar-benar kujawab dengan senyuman. Senyuman yang membuatku seolah merasa bersalah. Namun apa artinya bersalah bagi diri yang tak lagi berharga. Diri yang telah diberi kebebasan untuk melangkah sesukanya.
Namun, sepertinya kamu terlalu khawatir padaku. Lihat saja, sekarang, kamu menemaniku. Dalam kebebasanku malam ini. Lalu kamu bertanya sebabnya aku melewati malam ini dengan berada di luar selarut ini. Pertanyaan yang tadi. Berulang lagi. Lagi dan lagi. Seolah kamu sudah tahu jawabannya, kamu tak lagi bertanya. Aku tersenyum menang dan berjalan terus entah sampai kapan.
Berjalan tanpa menyisakan harapan apapun. “Aku tak ingin diganggu dan mengganggu orang lain.” Mungkin seperti itu maksud yang dapat diartikan dari jawabanku tadi. Diamku. Diam yang dibarengi raut muka yang tak terdefinisikan dengan pasti. Sedih. Senang. Sepi. Dan banyak lagi yang tak mampu terjelaskan. Namun sepi.
Ya, sepi. Seolah mewakiliku malam ini. Seolah sepi meraja dalam diriku. Dan kamu pun menghilang. Entah ke mana. Kamu tak lagi terlihat sejak saat itu. Mewakili awal ke-tidak-berjumpa-an kita. Yang seperti dahulu.
Aku terkesiap. Bagaimana aku sudah benar-benar tak mendapatimu di dekatku.
-o0o-
di bilik-bilik bambu
kita sama-sama menyusun jam
jam yang berdetak ke kiri
lalu kita simpan itu
di halaman tanpa pagar
Kamu sekali ini mengirimiku tulisan. Semenjak ke-tidak-perjumpa-an kita. Perpisahan yang kuawali dengan diamku. Atas pertanyaan yang tak ingin kujawab dengan jujur. Sejak itu, kita tak lagi bertemu. Kamu pun tak akan mendapatiku lagi dirumahku. Rumah yang selalu menjadi tempat perjumpaan kita. Di masa lalu. Dan aku, terlalu jauh untuk menghentikan langkahku. Aku meninggalkan rumahku. Desaku. Tempatku lahir. Tempatku dibesarkan.
Aku tak diizinkan lagi. Oleh yang memberiku nama.
Mungkin aku yang salah. Atau keadaanku yang memaksa begitu. Dan begitulah, musabab aku tak menjawab pertanyaanmu. Aku terlalu takut untuk mengatakannya, barang sehuruf atau sebunyi saja, kepadamu yang selalu bersamaku. Sedang usia kita sudah mengajarkan untuk mengatakan tidak pada kehendak orang lain. Kita sudah dewasa. Sudah bisa memutus apa yang perlu diputuskan. Bagi diri kita sendiri.
Ke-tak-ingin-anku mengajariku banyak hal. Terutama sikapku pada sekitarku. Juga sikapku padamu ketika itu. Aku tak ingin beranjak jadi bayi yang selalu minum ASI. Harus membangun sikapku sendiri.
Dan bagiku. Kepergianku adalah kehinaan. Tak perlu ada yang menyertai. Karena ke-ikut-serta-an juga berarti kehinaan bagiku. Aku hina luar dalam. Juga bagi ibuku. Ibu yang memberiku nama. Nama yang akan kuingat sampai lama. Sampai detik ini. Biang. Nama yang memberiku arti sendiri. Dalam diriku.
Biang, yang juga berarti asal-muasal. Dan bagiku, itu nama terbaik untukku. Yang waktu itu tak menyetujui ibuku menikah dengan ayahmu. Yang kelak tetap melangsungkan pernikahan. Lalu, aku tak pernah mendapatkan undangan pernikahan ibuku sendiri. Karena aku adalah biang. Asal-muasal yang tak dikehendaki. Seperti sepi. Yang merajaiku dulu bahkan sekarang. Tanpamu di dekatku.
Melalui tulisanmu kini aku mengerti. Mengerti yang sebenarnya ingin kamu jelaskan. Dan membuatku teringat pada masa silam. Saat kamu memainkan tongkat. Tongkat yang kamu ayun ke berbagai arah, dulu. Tongkat yang kamu artikan masa depan. Walau sebenarnya aku merindukan masa persahabatan kita. Dua anak laki-laki yang menyukai dunia yang sama.[]
(Sumenep, 2013)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar