Bagaimana rasanya terapung? Tanya pada teratai. Teratai yang terapung menunggu bisikan. Bisikan gemericik. Bisikan hembus. Bisikan yang berwarna gelap. Semisal arus di bawahnya. Yang merayu untuk bergerak mengikutinya. Mengikuti. Dan sampai di ujung waktu yang berdecak. Berdecak riang dengan bibir yang menyungging. Menyungging dengan rupawan.
Dan teratai itu
menyembul lagi. Kali ini kawannya rembulan. Rembulan yang pualam. Rembulan
warna perak keemasan. Warna yang dirindu. Dan untuk si bungkuk, si bungkuk yang
suka menunggu, malam adalah rumah. Rumah dengan raut jelita.
Sedang bumi hanya
memandang. Memandang kejauhan. Kejauhan yang landai seperti air mukamu. Air
muka yang beraroma resah. Dan getir. Keduanya sejoli denganmu. Tapi kamu tak
pernah mengajakku. Ditinggal sendiri di batas ini. Batas antara si pungguk lalu
dengan dembulan juaga dengan teratai dan denganmu.
(2013)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar