Rabu, 12 Juli 2017

#

Teratai, 2

unsplash.com/photos/6lWqkLIh5L8

Bagaimana rasanya terapung? Tanya pada teratai. Teratai yang terapung menunggu bisikan. Bisikan gemericik. Bisikan hembus. Bisikan yang berwarna gelap. Semisal arus di bawahnya. Yang merayu untuk bergerak mengikutinya. Mengikuti. Dan sampai di ujung waktu yang berdecak. Berdecak riang dengan bibir yang menyungging. Menyungging dengan rupawan.

Dan teratai itu menyembul lagi. Kali ini kawannya rembulan. Rembulan yang pualam. Rembulan warna perak keemasan. Warna yang dirindu. Dan untuk si bungkuk, si bungkuk yang suka menunggu, malam adalah rumah. Rumah dengan raut jelita.

Sedang bumi hanya memandang. Memandang kejauhan. Kejauhan yang landai seperti air mukamu. Air muka yang beraroma resah. Dan getir. Keduanya sejoli denganmu. Tapi kamu tak pernah mengajakku. Ditinggal sendiri di batas ini. Batas antara si pungguk lalu dengan dembulan juaga dengan teratai dan denganmu.


(2013)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Follow Me @orangkomidi