Matahari sudah condong ke barat. Ashar sudah berlalu stu jam yang lalu. Beburungan berlomba, memainkan mulut mereka untuk memikat banyak pihak. Bukan hanya dari kalangan unggas seperti mereka, namun juga yang lain. Yakni mereka yang menggiatkan diri dengan berbagai aktivitas di dalam kampus. Di sudut-sudut universitas negeri itu, banner dan spanduk mengibarkan diri dengah gagahnya. Sedang udara pancaroba asyik menebar semilir sejuk ke arah Pelabuhan Ujung. Di seberang, Kota Pahlawan memulai kesibukan rutin lainnya: jam pulang.
Dan di area taman kampus, di waktu-waktu seperti ini, memiliki peminat yang tak biasa. Bukan hanya mereka yang memindahkan perkuliahan ke taman kampus saja bersebab jenuh melakukan perkuliahan di dalam kelas terus. Namun juga yang sedang berdiskusi tentang apa saja atau sebatas rehat dari aktivitas kampus sambil menyimak ciptaan-Nya. Ada yang bergerombol, berleyeh-leyeh, dan tiduran. Semuanya tetap pada apa yang dilakukan, asyik sendiri. Di antara mereka, sebagian kecil, sedang menikmati sebuah pembahasan ringan mengenai cerita pendek.
Matahari bersembunyi di balik tubuh Gedung Rektorat yang menjulang sepuluh tingkat. Hanya terpaan angin senja dan hangatnya rembesen udara sore itu. Dengan doa syahdu mereka memulai kegiatan itu hingga tiba waktunya membubarkan diri pada kegiatan yang lebih khusyuk setelah itu, sholat maghrib.
-o0o-
Memulai itu penting, karena ia bagian yang pertama kali disimak, diperhatikan, dan dibaca. Karenanya, saya memulai tulisan ini dengan pembukaan dengan (sok) berbeda. Bukan apa-apa, namanya juga penulis amatir, kadang di dalam dirinya muncul keinginan untuk unjuk diri–kalau tidak ingin disebut pamer.
Sebagai penulis amatir, sebenarnya, unjuk diri bukan satu-satunya yang ingin saya harapkan tercerna dalam benak pembaca sekalian, namun berharap ada semacam pertukaran ide dan gagasan sekaligus sebagai penyaluran minat akan tulis-menulis. Atau lebih tepatnya keterpaksaan dari atasan untuk membuat laporan kegiatan. Ah, nasib bawahan memang seperti ini, menjadi ajudan yang ikhlas melakukan apapun–kecuali yang buruk.
Sore itu, tepatnya sabtu sore, saya diminta menjadi narasumber. Bayangkan, penulis amatir menyampaikan materi tentang cerpen. Nah, juga bayangkan juga Anda sebagai salah satu pesertanya. Hm..mari kita geleng-gelengkan kepala bersama-sama. Resah, khawatir, dan campuran emosi lain bersinergi dalam tubuh lalu menyuarakan kata mufakat: Jangan!
Jangan! Kata penolakan itu sulit terlontar apalagi tanpa sadar saya menyanggupi permintaan itu. Gamang. Namun satu hal yang membuat saya meneguhkan diri untuk berangkat setelah pergulatan batin dan perut yang dililit diare–kebanyakan makan pedas– yaitu status saya sebagai narasumber pengganti.
Jika di dunia olah raga ada pemain cadangan, maka itu berlaku juga pada kasus saya sebagai narasumber kajian kepenulisan. Saya membuat semacam proses mencari solusi bahwa pemain cadangan itu memiliki ciri-ciri: kurang pengalaman bermain, kurang bagus permainannya, disimpan untuk jaga-jaga di saat genting dan dipersiapkan untuk pertandingan yang lain.
Nah, dengan fakta-fakta itu saya membuat hipotesis: sebagai pemain cadangan tidak mengapa membuat kesalahan-kesalahan, bahkan yang fatal sekalipun. Bersebab kurang pengalaman dan kurang bagusnya permainan. Di lain sisi, diharapkan mampu memenangi pertandingan ketika tim dalam keadaan tertinggal, dan terjaga stamina untuk menghadapi pertandingan yang lebih penting. Lalu saya hubungkan hipotesis itu dengan status saya sebagai penulis berstatus amatir. Ah, ternyata. Akhirnya perasaan dan pikiran mampu berkompromi hingga menemukan kata sepakat: Berangkat!
Handphone kembali saya nyalakan. Tertera di layar sebuah kalender digital bulan ini. Ternyata tinggal tiga hari lagi, bulan Mei mampu menghidupkan kalender di tahun ini. Setelahnya hanya menjadi angka-angka masa silam, dilupakan.
-o0o-
“Hanya itu?” saya bergumam lalu menarik nafas agak dalam. Saya cerna lagi ucapan seorang peserta setelah menyampaikan dua paragraf pembuka cerpennya. Hm, ada yang kurang. Oh, ternyata ada yang kurang dari penyampaian saya dalam kajian tadi sebelum memberi penugasan berupa penulisan pembuka cerpen. Pembuka cerpen itu harus menarik, hingga mampu menimbulkan rasa penasaran: pembaca ingin membaca kelanjutannya.
“Sudah bagus.” Saya coba memberi apresiasi. “Namun sedikit saran, coba jika ingin membuat cerpen bergenre horor & triller masukkan unsur yang lebih mencekap dari itu. Misal saja, ketika sebarisan burung yang terbang sore itu ketika melewati tokoh dalam cerpen berjatuhan, mati. Atau...” Saya berupaya mencari contoh lain namun masih buntu.
“Langit tiba-tiba retak.” Celetuk peserta lain. “Nah itu.” Alhamdulillah tertolong.
Menjelaskan cerpen bukanlah hal mudah bagi saya. Untung saja, beberapa jam sebelumnya menemukan berkas berupa modul penulisan fiksi. Di dalamnya dijabarkan dengan begitu runut, termasuk pembahasan penulisan cerita. Dua hal yang coba saya rangkum untuk disampaikan, pertama, ragam dan topik/ tema yang sering diangkat dalam cerpen, dan kedua, unsur yang membangun sebuah cerpen.
Horor & triller merupakan salah satu topik yang jamak diangkat. Di dalamnya mengandung unsur-unsur ketakutan, keganjilan, dan unsur lainnya. Ada pula science fiction yang berkutat seputar hal-hal yang mungkin dibuat dan terjadi di masa depan (futuristic) namun belum bisa diciptakan dan diterapkan hingga saat ini. Di sambung fantasi yang membahas sekitar hal-hal rekayasa dan tak masuk akal karena ia mendiami dunia imajinasi, di luar dunia nyata. Lalu cerita rakyat/ lokalisme yang membahas nilai-nilai kedaerahan, cerita lisan, dan semacam itu. Serta cerita anak & dogeng yang pembawaannya ceria dengan klasifikasi pembaca golongan anak-anak.
Tak kalah penting dalam cerpen berupa unsur-unsur yang ada di dalam cerpen, unsur pembangunnya. Plot atau alur bertalian dengan susunan kejadian. Secara umum, alur terbagi dalam alur: maju, maju-mundur, mundur-maju, lompat, dan campuran). Diksi atau pemilihan kata, ini berkaitan dengan “kekuatan bahasa”. Tidak melulu mendayu-dayu, tidak pula kaku, namun sesuai makna dan lugas. Penokohan atau karakter bukan hanya berupa protagonis (tokoh utama, biasanya bersifat baik), dan antagonis (berlawanan dengan tokoh utama, bersifat jahat). Namun, menitikberatkan pada wajah, cara bicara, cara berpakaian, latar belakang tokoh dan ciri lainnya. Terutama pada cara mewujudkan keinginan/ kemauan pada tokoh. Konflik, berkenaan dengan pertentangan tokoh dengan segala yang melawannya. Bentuknya bisa berupa fisik (peperangan), emosi (perasaan-perasaan dalam diri), dan masalah etis (pengambilan keputusan yang berlwanan dengan masyarakat atau orang lain). Sudut pandang, membahas sudut penceritaan (point of view) atau siapa yang bercerita. Umumnya, orang pertama, orang kedua, orang ketiga, dan serba tahu. Latar atau setting, meliputi kondisi/ keadaan yang terbangun dalam suasana, tempat dan waktu.
Tamat. Alhamdulillah. Dada rasanya melepaskan beban yang ditanggungnya selama puluhan menit lamanya. Kurang lebih itu yang mampu tersampaikan. Tugas selanjutnya adalah memberikan materi tambahan berupa praktik penulisan cerpen. Dengan hati-hati saya menjelaskan tugas mereka: tulis judul dan paragraf pembuka, bisa satu sampai dua paragraf.
Kadang kala, pemain cadangan mampu meberikan yang diluar keinginannya semula. Dan harapan itu ingin rasanya terjadi pada saya, minimal para peserta paham yang disampaikan tadi. Saya tidak berharap banyak karena selama melontarkan kata-kata dari awal tak sedikit yang salah ucap dan cenderung menghasilkan penafsiran yang berbeda. Toh, namanya juga penulis yang belum mampu melewati jembatana keamatiran.
Oya, saya teledor untuk menyebutkan penyelenggaranya. Maklum, kebiasaan menggerakkan jari-jari dengan sungguh-sungguh pada lembar keyboard lalu lupa akan hal penting lainnya. Writing Class, kalau saya tak salah mengingat, nama yang disematkan pada kajian itu. Merupakan sebuah kajian yang, kala itu, terselenggara berkat kerjasama antara Forum Lingkar Pena Cabang Bangkalan dengan Lembaga Dakwah Kampus (LDK MKMI) yang terejawantahkan oleh Departemen Pers ITnya.
Walau yang ikut tak sebanyak ketika penulis Ayat-Ayat Cinta melakukan bedah buku, misalnya, saya berharap kajian semacam ini mampu bertahan. Saya optimis, jika bertahan, akan ada banyak kebaikan yang akan tercipta nantinya. Dan jika berlanjut, dengan senang hati saya berupaya hadir, namun dengan mata kaca dan rasa keingintahuan yang membuncah. Yups, sebagai peserta. Posisi yang lebih pantas. Dan karenanya, kadang-kadang muncul keinginan untuk bersegera melewati jembatan keamatiran yang senantiasa menggangu itu. Karenanya, saya sematkan oretan yang mapir sejenak untuk disematkan sebagai “buah” kajian kali ini:
------
Dua Hari
Wajahnya nyaris pucat. Kedua tangan disembunyikan dalam dekapannya. Gemetar. Di pipinya masih tersisa bekas tangisan. Air pun lekat di dalam matanya, mengilat, entah mengapa tak hendak jatuh atau mengalir saja. Sudah setengah jam, perempuan itu membeku di kursi itu. Kontras. Pakaiannya rapi bahkan nyaris sempurna dengan mantel tebal membungkus tubuhnya. Ada uap putih yang terlontar setiap ia bernapas. “Apakah ia habis berpesta lalu menangis? Karena tak menemukan tempat untuk menuntaskan kesedihan, ia duduk begitu saja di salah satu kursi taman itu?” Aku hanya menerka-nerka. Kulihat, wajahnya segar, walau air mukanya telah kehilangan gairah hidup.
Uap kopiku mengepul perlahan, sekilas lalu lenyap. Aku hanya mampu menatap perempuan itu dari balik jendela kamar, agak serong dari tempatnya duduk kala itu. Sesekali buku menyita perhatian. Mobil ferrari merah melintas lalu berhenti di depannya. Seorang pria turun menghampiri perempuan itu. Mereka lenyap ke dalam mobil. Kembali aku larutkan perhatian sepenuhnya pada yang kubaca. Esok pagi, seorang editor akan mengambilnya untuk diterbitkan. Namun, aku tak mampu melanjutkan tugasku itu. Siapa dia? Dan...[]


Tidak ada komentar:
Posting Komentar