Di tahun-tahun kemudian, aku akan mengenang bahwa sekarang dan masa laluku tak memberiku apa-apa. Ia hanya kumpulan hari-hari yang berlalu. Dan di dalamnya berkutat banyak khilaf dan jahiliyah. Dan betapapun aku mencoba menelaah dengan cermat, sekarang dan masa laluku tak lebih seperti benalu yang melekat dan menjelma gulita. Gulita yang pedih. Yang membebaskan angin untuk menyapa bekas-bekas luka. Luka yang belum sempat terobati.
Nan bagaimanapun juga, ketika waktu itu tiba, aku pasti perlahan demi perlahan melupakan nama-nama, wajah-wajah, juga ingatan-ingatan yang pernah aku kenal sekarang dan di masa lalu. Jadi, jangan salahkan aku, jika aku menjadi pelupa akan sesuatu yang sebenarnya penting bagiku. Karena semuanya akan berjalan seperti itu. Itu bukan kehendakku. Namun, jika waktu itu benar-benar terjadi padaku lalu kamu dan kalian berharap aku untuk mengingatnya, maka jelaskanlah perlahan dan jadilah telaten. Karena mungkin, aku benar-benar telah melupakannya hingga akar. Dan mungkin, jika itu berkenaan dengan janji yang sudah aku sampaikan, paksalah aku untuk mengingatnya. Jangan sampai kamu dan kalian melemah karena tidak tega dan enggan padaku.
Lalu sebagai penghujung yang dinanti kehadirannya, janjiku adalah mutlak. Janjiku adalah tali yang mengikat jiwa dan ragaku. Dan jika ia tertunaikan maka belenggu itu perlahan menjadi tiada. Maka bantulah aku untuk meniadakannya. Hingga waktu fajar itu tiba. Kita membersamainya dengan riang.
(Juli, 2014)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar