Selasa, 09 Mei 2017

#

Tujuh Sajak dalam Musim

unsplash.com/photos/tTz_-cO84Dw

Semi

Aku tidak seperti bunga saat pagi
dengan embun yang mengikatnya
dipandang jadi menakjub
bagi mata yang entah jujur
entah bohong


Panas

Pada awalnya semuanya baik
setelahnya baik
hingga berakhir di hari yang terik
semua jadi baik
baik-baik saja


Gugur

Kita bermain seperti biasa
di halaman rumah yang biasa
bersama teman-teman sepermainan
yang juga biasa


Dingin

Kami tetap seperti malam
yang dingin dan beku
lalu pijakan menjadi licin
seperti tak mampu ditapaki lagi
walau hati-hati


Kemarau

Aku ingin mempertanyakan keberadaan air mata
yang dulu, bagiku, seperti embun
menghangat lalu terbang ke peraduan
di detik-detik ini
begitu dinanti


Hujan

Tidak seperti biasanya malam-malam lebih berisik
pagi seperti tiada penghuni
lalu di tengah hari sampai jelang malam
bukit bernyanyi seperti ingin mengeluarkan semua
seakan tiada lagi yang mampu untuk dipendam


Anomali

Aku tak ingin lebih menyukai ketidakpastian
antara yang baik dan buruk
antara malam dan siang
lalu siang juga sore
apalagi ketidakpastian berkata:
“seperti berujar pada malam namun diterima oleh pagi yang seolah senja”


(Bangkalan, 2013)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Follow Me @orangkomidi