Sabtu, 08 Juli 2017

#

Semak

unsplash.com/photos/Gm6keHhyYxw

Tiada yang mengerti semak. Semak yang tumbuh dengan kemauan si empunya. Si empunya yang bisa berada dimana saja. Tapi, kata angin, semak itu suka tumbuh sendiri. Semak tak ingin diatur si empunya. Jika si empunya ke luar kota, semak suka mengajak saudaranya bermain. Dan halaman itu jadi ramai. Ramai dengan sanak saudaranya.

Ramai dan berisik. Sering mengganggu halaman sebelah. Dan penghuni pasti marah. Sampai merusak pagar pembatas. Mereka berbaur. Menjadi satu. Lalu si empunya datang. Datang dengan raut murka. Diambilnya sebatang pohon jati tua. Ditancap di halaman itu. Halaman yang jadi satu. Dan mereka yang ada di sana mati. Halaman itu juga mati.

Lalu muncul keanehan. Keanehan yang hijau. Hijau dengan sayap tua. Sayap yang mengepak diembus angin. Angin yang berkata begini, “semak itu suka tumbuh sendiri.” Padahal itu hanya hembusan angin lalu. Hembusan yang tak berarti apa-apa. Dan keanehan itu tambah menjulang. Menjulang menyentuh langit. Menjulang dari sebatang pohon jati tua.

Batang yang dulu juga diajak semak bermain. Bermain di halamannya. Halaman yang kini mati. Dan si empunya menatap halaman itu dengan nanar. Nanar yang berarti ia akan segera pergi. Pergi jauh. Dan meninggalkan halaman tempat dulu ia melahirkan semak.


(2013)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Follow Me @orangkomidi