Aku teringat seorang tua yang sering berjalan di malam hari. Malam yang terang. Diterangi lampu besar yang menggantung. Di atas sana. Di langit. Langit hitam yang beruban. Dan di desa obor-obor beterbangan. Mencari jalan pulang. Baru satu jam lalu matahari terbenam.
Dan di kota, pagi atau malam sama saja.
Bercahaya namun beda. Beda yang unik dan syarat siasat. Siasat si penerjemah.
Katanya, biar ada yang tersenyum, walau tipis. Setelah itu badai atau longsor
yang tiba tak jadi soal. Setidaknya bibir pernah tersenyum.
Bahkan ketika aku teringat kembali dengan
seorang tua, yang dulu mengajariku melempar batu ke permukaan air, pagi dan
malam tetap akur. Akur dengan cahaya yang dimiliki. Berpendar sampai kejauhan
sana. Dan suatu saat, aku mendengar sebuah siasat dari si penerjemah. Siasat
yang tumbuh sendiri.
Siasat yang ketika kemarau bisa tumbuh dan
ketika penghujan bisa berkembangbiak. Banyak dan makin banyak. Banyak dan
meresahkan. Sampai suatu malam, aku tak lagi menginganya. Seorang tua yang sering
berjalan di malam hari. Dan perlahan, malam makin sirna.
(2013)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar