Ia yang berpunggung kurus. Berjalan menyusup di keramain para pelesir. Pelesir yang menyewa perahu warna jingga. Jingga yang pucat. Sepucat wajah laut. “Laut sedang pasang”, pasir mencoba mengawal. Tak ada lagi suara. Sunyi. Sepi. Ada warna yang meraup kening. Lalu peluh bercucuran.
Ada kerucut yang
mengambang di laut. Kerucut warna hitam. Warna yang mengawali derita. Derita para
buih yang berkerumun. Dan di pesisir, buih lenyap. Lenyap ketika angin darat
berhembus. Ikut pula debu dari kota. Debu dengan rasa getir.
Ia yang berpunggung
kurus. Menepi di karang. Memasukkan kaki kanannya dalam laut. Kaki yang
berlumut. Asin. Hingga diangkatnya. Lalu dibawa pulang. Kaki yang berubah jadi
kayu. Kayu manis.
(Sumenep, 2013)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar