Selasa, 26 September 2017

#

Ia Yang Berpunggung Kurus

unsplash.com/photos/D9AndXLg44E

Ia yang berpunggung kurus. Berjalan menyusup di keramain para pelesir. Pelesir yang menyewa perahu warna jingga. Jingga yang pucat. Sepucat wajah laut. “Laut sedang pasang”, pasir mencoba mengawal. Tak ada lagi suara. Sunyi. Sepi. Ada warna yang meraup kening. Lalu peluh bercucuran.
Ada kerucut yang mengambang di laut. Kerucut warna hitam. Warna yang mengawali derita. Derita para buih yang berkerumun. Dan di pesisir, buih lenyap. Lenyap ketika angin darat berhembus. Ikut pula debu dari kota. Debu dengan rasa getir.

Ia yang berpunggung kurus. Menepi di karang. Memasukkan kaki kanannya dalam laut. Kaki yang berlumut. Asin. Hingga diangkatnya. Lalu dibawa pulang. Kaki yang berubah jadi kayu. Kayu manis.


(Sumenep, 2013)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Follow Me @orangkomidi