Kamis, 08 Februari 2018

#

Kita dan Kebersamaan


Terkadang kita lupa bahwa kebersamaan bukanlah hal yang utama, namun ia penting. Karena kebersamaan punya makna lain yakni kepedulian, kasih sayang atau cinta. Kebersamaan dibutuhkan setiap manusia. Bahkan muncul idiom yang berkembang pesat di dunia global: manusia tidak bisa hidup sendiri. Gambaran singkat ini dapat kita jadikan patokan bahwa kebersamaan tak boleh dianggap sepele.

kebersamaan pula yang akhir-akhir ini menjadi titik permasalahan dipenjuru dunia. Bersebab kurangnya intensitas sebuah kebersamaan, hubungan antar anggota keluarga tak lagi rukun. Atau bahkan dalam dunia luas, para pemegang kuasa tak lagi rukun, mungkin saja penyebabnya adalah kebersamaan pula.

Kebersamaan bisa berarti baik, begitupun juga sebaliknya, berpengaruh buruk. Yang dapat kita syukuri adalah manusia secara lahiriah memang membutuhkan kebersamaan. Seperti bernafas atau minum. Kita ambil contoh paling dekat, ya, yang terdekat semenjak kita baru terlahir ke dunia: Keluarga.

Semenjak bayi, manusia memerlukan kebersamaan dari orang tuanya. Jika tidak ada atau telah ditinggal mati, tentu masih ada paman-bibi dan kakek-nenek. Karena bayi butuh kasih sayang, butuh perhatian, butuh cinta. Itulah nutrisi bagi bayi untuk tumbuh menjadi luar biasa maksimal.

Kita menemukan akhir-akhir ini menemukan fakta mencengangkan, di kota atau di desa dan perkampungan sekalipun. Dari berbagai media kita disuguhkan berbagai pemberitaan yang tak ayal membut dahi mengerut, kriminalitas, moral, bahkan kebiasaan yang tak lazim tumbuh di negeri bercorak ketimuran yang santun, tata krama, gotong-royong dan kekeluargaan. Semua digusur atas nama modernitas.
Sedang di desa tak kalah sengit: modernitas bertemu dengan keluguan lalu berkolaborasi secara intens. Kita bisa simak keadaan desa atau perkampungan ketika libur Hari Raya Idul Fitri. Fenomena baru yang berkembang pesat. Kita menyaksikan dengan nurani tentang bergesernya makna kebersamaan dan kebersamaan. Indikatornya tentu saja, sikap, pola pikir dan cara pandang terhadap sesuatu.

Maka dengan penuh kepiluan, berbagai pihak mengupayakan perbaikan-perbaikan. Semua berupaya maksimal sesuai kemampuan masing-masing. Dan tentu saja kita --walau dengan keterbatasannya, juga bisa ikut mengupayakan perbaikan. Dimulai dari diri sendiri lalu ajak yang terdekat. Untuk memberi contoh atau sekadar menguatkan mereka yang sudah berjuang terlebih dahulu. Bukan berdiri atau malah menjatuhkan mereka yang memperjuangkan kebersamaan, kedekatan atau kesatuan.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Follow Me @orangkomidi