Aku tak pernah mengucapkan kata ini di setiap perjumpaan, mungkin kau sebabnya. Dilihat olehku sebuah warna yang lugu. Yang berwarna polos biru. Di warna itu aku seperti dibangunkan saat tidur. Lalu di depanku engkau muncul dengan senyum hijau. Dan menyebar pada wajahku. Membuatku ingin tersenyum juga. Namun aku seperti resah. Aku jadi tak tersenyum.
Juga tubuhku yang kusadari tak lagi utuh.
Hilang satu-satu. Lalu muncul di tubuhmu yang berwarna ungu. Ungu cerah
bercampur merah. Di matamu tak lagi ada warna kuning yang kusuka. Kuning yang
beraroma kunyit. Kuning yang mengingatkanku pada malam itu. Malam dengan
deburan ombak dan hamparan bintang
Kuning, yang ketika melihatku, berubah jingga.
Jingga yang menawan. Jingga dengan semburat putih. Elok. Enak dipandang.
Menjadikan yang melihat serba kurang. Ingin melihatnya lagi. Lagi. Dan pada
ujungnya lupa segalanya. Lupa yang resah. Lupa yang menerpa. Semua jadi sejuk/
Lalu seperti aku bangun tidur, segala adalah
bayang-bayang. Bayang-bayang yang menyerupa asli. Mustahil. Tiada yang asli
ketika aku bangun. Bangun lagi. Bangun lagi. Lalu tidur. Tidur kedua kalinya.
Berurutan.
(2013)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar