Sebenarnya aku ingin menyampaikan pesan
dari kisah di seberang jalan: suara-suara atasmu
bahkan sekali ini mau rasanya ada yang berbeda tanda
sehelai tiup angin yang meranggas daun pohon jatuh di dekatmu
Aku membuat ritme agar dirimu nyaman di dekatku
sementara arak-arak gerimis sudah sampai di depan pertemuan
kita sudah larut ke perbincangan hari-hari yang lalu
Isyarat, kau mengambil payung yang bersandar di bawah meja
di atas, membeku jus manga dan jus jeruk
Aku tahu, waktunya ucapan selamat tinggal
dari mulutmu dan aku siap
kamu bergeming apalagi aku?
kita! kita…
Gerimis lebih suka hinggap di pelupuk matamu
terlebih dahulu sebelum sentuh kulit
payung yang dibuka lalu dibawa
olehmu meninggalkan pertemuan,
tanpa menitipkan sebuah pesan
selain bibir gelas jus mangga
yang dikecup saja tanpa kau minum
(Bangkalan, 2015)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar