Kita sama-sama mengepak hujan. Hujan rintik merah yang berarti api. Api membara. Dan hujan lebih memilih api daripada air. Air yang berwarna bening. Biru, hijau, dan jingga bening.
Hujan api lebih suka ranah kota bukan desa. Kota dengan seribu cahaya. Seribu gulita. Seribu samar-samar. Bukan desa yang menyimpan keluguan. Melkatkan kata tulus dan persahabatan. Persahabatan manusia, alam, perilaku, dan adab.
Tapi bumi menyimpan hasrat pada hujan. Mesti bersama atau tidak sama sekali. Mesti dilahirkan dalam tubuhnya. Mesti tumbuh dalam rahimnya. Bumi hujan lebih suka berdiam diri. Menunggu yang ditakdirkan muncul dalam halamannya. Dan setelahnya, hujan akan berderet-deret menyungging senyum. Senyum api dan senyum air.
Senyum yang memunculkan manusia. Memunculkan pengalaman. Memunculkan perilaku. Memunculkan adat. Lalu memunculkan yang terpilih. Terpilih yang dinanti. Berusia sebentar saja. Dan di masa itu banyak yang terjadi. Banyak yang bersuara:
“ini luar biasa”,
“ini sungguh menakjubkan”,
“sungguh beruntung kita”.
Sedangkan bumi hujan hanya ingin berdiam diri. Dia tak ingin diganggu. Tak ingin mengganggu. Dan bumi hujan menurunkan keduanya. Hujan api dan deburan air. Bersama-sama. Mereka melanda bumi hujan, menyeluruh..
(Bangkalan, 2013)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar