Selasa, 09 Mei 2017

#

Bulan Biru, 1

unsplash.com/photos/YqDSBD1baE0

Yang bernama tak lebih dari sebutan. Sebutan sebelum tidur. Setelah tidur ia tiada. Yang bernama hanya titipan. Bisa diambil pemiliknya sesuka. Suka tiba-tiba. Suka tiada jadwal. Namun, setiap pengambilan ada yang berdesir, “tolong jangan!” Hanya itu. Hanya itu riwayat yang bernama. Yang hidupnya tiada mengenal waktu. Karena waktu setakberdaya batu. Batu yang tenggelam dalam air. Batu yang tak mampu berenang ke permukaan.

Dan semisal batu, yang bernama tak suka air. Tak suka yang bening. Tak suka yang mengalir. Mesti dihentikan. Lalu arus harus diputus. Diputus untuk tak mengalir. Di benaknya arus bisa mengancam keselamatan. Keselamatan dirinya dan kawan-kawan. Dan yang bernama punya banyak musuh. Musuh di mana pun. Di jalan. Di rumah. Di gedung. Dan di emperan toko. Lalu di terminal. Bahkan, di mulut orang pun ia dimusuhi.

Namun tiada yang tahu. Tiada yang menyimak lakunya belakangan ini. Tingkah laku yang bernama. Yang suka pergi ke gunung. Gunung yang tinggi dan landai. Selandai pasir pantai. Dan di gunung itu tiada yang penting. Hanya kolam yang keruh. Kolam yang bermata biru bercampur hitam. Kolam yang tak suka kehadiran. Dan baginya, yang bernama adalah pengganggu. Pengganggu yang suka bertanya, “kapan?”

Tiada jawaban yang perlu diperdengarkan. Dan cukup dengan tatapan. Tatapn serupa bulan. Bulan yang bercahaya. Cahaya warna biru. Cahaya yang memantul di sekitaran. Dan tiada yang tahu kalau yang bernama tak lagi berwajah. Ia hanya bernama. Nama yang disuka. Bulan biru.


(Bangkalan, 2013)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Follow Me @orangkomidi