Selasa, 09 Mei 2017

#

Bulan Hujan

unsplash.com/photos/8zMIksrTrOQ

Aku pernah berpikir tentang bulan. Bulan hujan. Bulan yang suka menangis di langit. Langit dengan warna pelangi. Merah. Kuning. Hijau. Dan bayang-bayang. Bayang-bayang yang tak terlihat. Ia redup di ketinggian bulan hujan. Ketinggian yang suka naik. Naik pelan-pelan lalu lenyap bersama pijakan.

Pijakan itu bersuara nyaring. Nyaring melengking, “kamu tidak pantas! Kamu tidak pantas! Kamu tidak pantas!” Lengkingan itu mengarah ketelingaku. Telinga yang berbentuk anakan katak. Anakan katak yang suka berenang. Ke atas. Ke bawah. Lalu ke atas lagi. Kepermukaan yang datar.

Datar dan berbau bening. Bening yang disuka bidadari. Bidadari tanpa selendang. Bidadari berkulit langsat. Bergaun sutera. Sutera sulaman malaikat. Sulaman yang menyimpan jutaan rindu dan pelukan. Rindu dan pelukan penghuni bulan hujan. Penghuni yang tak jera untuk menangis.


(Bangkalan, 2013)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Follow Me @orangkomidi