(1)
Aku belajar dari keberadaanmu
di beku pagi, engkau menghampiri perjumpaan
pada pohon yang kita sepakati
Di bawah senyumanku engkau bertanya
akan kehadiran yang tiada lenyap
adakah itu, begitu tanyamu
Pagi itu, ada bentuk lain
wajahku lebih banyak tersenyum
dan wajahmu ikut pula tersenyum
senyum yang dihiasi bunga mawar
mawar warna bening matamu
Lihat pula pohon tempatmu menungguku
tersenyum kepada kabut dan embunmu
kabut dan embun yang melahirkan senyumanmu
dan rambutmu melambai pada angin dari nafasku
nafas yang menderu pada pertanyaanmu
adakah itu, begitu nafasku menegaskan
(2)
di beku pagi, engkau menghampiri perjumpaan
pada pohon yang kita sepakati
Di bawah senyumanku engkau bertanya
akan kehadiran yang tiada lenyap
adakah itu, begitu tanyamu
Pagi itu, ada bentuk lain
wajahku lebih banyak tersenyum
dan wajahmu ikut pula tersenyum
senyum yang dihiasi bunga mawar
mawar warna bening matamu
Lihat pula pohon tempatmu menungguku
tersenyum kepada kabut dan embunmu
kabut dan embun yang melahirkan senyumanmu
dan rambutmu melambai pada angin dari nafasku
nafas yang menderu pada pertanyaanmu
adakah itu, begitu nafasku menegaskan
(2)
Hanya untuk perjumpaan ini
tiada yang perlu dijelaskan
dan perkataan adalah sia-sia
karena relung-relung dicipta dari pecahan
suka berbunyi dan mengasari telinga
Di persembunyian diam-diam bersuara:
“tidak ada waktu yang tersisa”
Ada yang tidak disukai kepekaan di musim ini
bunga-bunga suka bernyanyi
matahari suka menantang
lalu manusia sibuk bertanya
tiada yang perlu dijelaskan
dan perkataan adalah sia-sia
karena relung-relung dicipta dari pecahan
suka berbunyi dan mengasari telinga
Di persembunyian diam-diam bersuara:
“tidak ada waktu yang tersisa”
Ada yang tidak disukai kepekaan di musim ini
bunga-bunga suka bernyanyi
matahari suka menantang
lalu manusia sibuk bertanya
Namun padamu aku tahu
bumi mencipta wajahmu
lebih bercahaya di pendarku
dan bunga mawar di senyummu
merekah rona merah
Di pagi itu, aku melihat wajah
wajah orang-orang dulu
yang selalu berdongeng tentang perahu pemberani
yang melewati samudera luas sendirian
dan wajah itu makin dekat
dekat dengan wajahku
lalu serupa wajahmu
di dekatku kamu tersenyum
senyum bunga mawar
merekah rona merah
(Bangkalan, 2013)
bumi mencipta wajahmu
lebih bercahaya di pendarku
dan bunga mawar di senyummu
merekah rona merah
Di pagi itu, aku melihat wajah
wajah orang-orang dulu
yang selalu berdongeng tentang perahu pemberani
yang melewati samudera luas sendirian
dan wajah itu makin dekat
dekat dengan wajahku
lalu serupa wajahmu
di dekatku kamu tersenyum
senyum bunga mawar
merekah rona merah
(Bangkalan, 2013)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar