Dengan sayap menghelai angin dengan ringan lalu memelankan langkahnya pada putik. Dalam kemauannya, tiada menyimpan canggung wajah-wajah dunia, disimak perlahan. Di hangatnya matahari dan embus rubuan embun, ada yang menyita pandangan. Mau rasanya yang tumbuh diberi kesempatan. Beberapa warsa mereka hadapi dengan bijak, direngkuh semua sampai luluh.
Dan pada musim hujan dengan rinai yang giris, pepatah menjadi hiburan dengan nada sedikit canggung. Lebih banyak yang menyimpan lara pada kenangan, memandang rindu dan air mata yang mengalir deras di mata airnya.
Di penghujung dahaga, pelangi menerbitkan nuansa tanah berkabung. Disusul ngarai yang lelah menyimpan duka pada makhluk yang menyukai rimbun pohonan.
(Bangkalan, 2016)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar