Ketentuan manusia diawali satu hal. Mimpi. Mimpi memberi manusia tujuan. Tujuan untuk digapai. Dan dari mimpi kisah ini dimulai pula. Kisah tentang bocah kecil pemanggul garam. Garam yang menjadi primadona pulau itu. Pulau dengan sejuta keunikan penghuninya. Pulau sejuta mimpi.
Dalam hari-harinya bocah itu memanggul garam dari satu tambak ke tambak lain. Berkeliling seharian. Pagi sampai sore. Setelahnya ia senantiasa menutup malam dengan pinta ringan namun baginya adalah pertaruhan nyawa: semoga besok tidak hujan.
Namun, seperti hari-hari belakangan, bocah itu tidak beruntung. Pekan ini hujan selalu jadi temannya. Teman yang usil. Suka membuatnya marah. Terkadang sampai menangis. Namun, hujan sepertinya enggan menjauh. Pulau itu sering basah kuyup akhir-akhir ini. Membuat para penghuninya kesal sendiri.
“Seandainya tidak hujan.”
Dan si bocah kecil menatap langit mendung, “ibu, sepertinya ini balasan dosaku terhadapmu.” Pekan ini sudah masuk penghujung bulan April. Rasanya hujan masih terus mengguyur pulau itu. Pulau bocah kecil itu.
-o0o-
“Paman ingin mengajakmu ke jawa. Di sana lebih menjanjikan. Dan kamu terlalu bermimpi untuk sukses di pulau ini.” Setelah mendengar perkataan pamannya, bocah kecil yang kini sudah dewasa, mulai tak senang. Ia menundukkan wajahnya. Entah apa yang dirasakannya. Hanya saja air matanya menjadi jawaban atas perkataan pamannya. Ia tak rela. Bagaimana bisa ia merelakan, rumah, kasih sayang, cinta dan mimpinya. Meninggalkan semuanya demi kehidupan yang lebih baik.
“Jika kamu mau, besok pagi paman tunggu di rumah paman!”
Ia bergeming, sedang pamannya melangkah pergi darinya. Seakan dirundung pilu yang menerjang terus-menerus, ia teteskan air matanya. Ia keluarkan semuanya. Dan sesenggukan terakhirnya menandakan kebulatan tekadnya. Ia hapus air mata di wajahnya dengan kedua tangannya. Kepada langit yang mendung, ia menatap sayu, “hujan datanglah besok”, dengan suara lembutnya ia menutupnya. Hujan kembali mengguyur. Para penghuni sibuk berteduh. Menghindari dinginnya hujan. Hujan yang mengakhiri pulau itu.
-o0o-
“Sebulan yang lalu, seorang laki-laki terbunuh. Dan mayatnya dibuang di tambak.”
Desas-desus mulai merambah ke berbagai tempat di pulau itu. Lalu sampai pada telinga pemuda itu, yang dulunya bocah pemanggul garam. Ia mendapati berita yang tak sedap didengar. Pasalnya, desas-desus itu menjadi sebuah kebenaran. Kebenaran yang membuatnya berwajah aneh. Aneh sekali. Di dalam wajahnya tak ada apa-apa kosong. Laki-laki itu adalah tempat dia mencari sesuap nasi sewaktu kecil. Pemilik tambak. Yang juga teman sejawatnya. Sekaligus saingan. Dan di tubuh saingannya itu, ditemukan bekas sayatan-sayatan senjata tajam.
Kini, ia mendapati dirinya di depan cermin. Sendiri dan bayangannya di cermin. Bayangan itu bukan ia saat itu. Jauh dari waktu sekarang. Waktu saat ibunya masih ada di sampingnya. Mengajarinya untuk berlaku sopan pada orang yang lebih tua. Lalu ayahnya, yang mengajarinya kesabaran dalam cobaan ketika baru saja kehilangan tambak garam miliknya. Karena tak sanggup membayar hutang pada rentenir.
Dan cermin itu terus memutar riwayat kehidupannya. Pada waktu dia masih bocah dulu. Yang memanggul garam. Karena tiada yang dimilikinya lagi. Kedua orang tuanya telah meninggal. Meninggal dalam kehimpitan kemiskinan. Sehingga memutuskannya untuk bermimpi. Mimpi yang harus diwujudkan dan perlu diperjuangkan. Menjadi juragan tambak garam sukses. Agar setidaknya ia tidak berakhir seperti orangtuanya. Lalu berganti dengan sebuah peristiwa. Peristiwa berdarah. Ia membawa celurit yang berlumur darah. Membekas pula di bajunya. Ia tersenyum puas lalu kosong. Tiada perasaan apa-apa. Serasa baru saja makan nasi di pagi hari.
Seumpama tempat tujuan, cermin kembali menunjukkan pemandangan yang menakjubkan sebagai penghujung riwayatnya. Peristiwa ketika pamannya mengajak ia pergi meninggalkan pulau. Sedang ia yang ada dicermin tanpa kepala.[]


Tidak ada komentar:
Posting Komentar