Di gunung yang tak bernama gunung. Kerap kali terdengar suara kuda. Suara yang membuat si pendengar jadi bergidik. Seakan-akan maut yang dinanti tiba. Tiba seketika. Tiba yang menyeketika di hadapan. Lalu berkata, “leher atau tubuh?”. Yang setiap jawaban pasti ada resikonya. Dan yang membuat terhenyak, tak ada jawaban setelah pertanyaan itu terlontar ke udara.
Seperti dongeng, suara itupun ada yang percaya dan tidak. Sepercaya dan tidaknya manusia dengan masa lalu. Katanya, “masa lalu itu rekayasa”. Dan kau tahu apa yang terjadi dengan yang mengataknnya di depan umum? Dia lenyap seketika. seketika seperti maut. Ya, maut. Yang lebih kuat dari apapun. Dan maut itu sakit rasanya. Lebih sakit dari tertancap duri.
Maut. Yang katanya pula, selalu menghantui manusia. Ikut dan berdampingan dengan hidup seseorang. Seperti seorang bayi yang ada di dalam kandungan. Yang kadang menendang ibunya. Yang rewel minta ini-itu. Tapi anehnya, ibu menyayangi bayi itu. Ya, semisal bayi, maut juga. Disayangi manusia. Manusia yang mengerti untuk apa maut dilahirkan.
(Madura, 2012)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar