Tiada yang meyakini kebendaan-Nya. Kecuali sebagian saja. Tiada yang meyakininya sebagai yang dimujurkan. Yang bisa tumbuh dengan cepat. Yang dialiri ribuan air-air tawar yang menyegarkan. Yang selalu berdetak di waktu-waktu diamnya yang lain. Dan di balik semuanya, suka ada yang melempar senyum karenanya. Senyum yang manis dan polos. Menunggu dan menanti dengan setia. Ah, mereka memang setia dan akan menunggu.
Sungguh, tiada yang meyakini keberuntung itu. Diberikan-Nya dengan
ikhlas. Lebih ikhlas dari sinar matahari di pagi hingga senja. Dan lembayung
menutup semuanya. Lalu malam menjadi sang penidur ulung nan lelap. Namun, tetap
tiada yang meyakininya. Meyakini kehadiran yang dianggap tak terlihat. Tak dirasa.
Tak didengar. Hanya saja kerap kali benda-benda kerap kali memandang: “adakah
yang keliru?”
Adakah yang keliru lalu tak meyakininya dengan baik? Dan tak mau menjadi
mujur? Mujur yang dinanti. Dinanti untuk segera menerima yang sudah menjadi
haknya. Lalu dengan santai berujar: “aku bersukur meyakini kebendaan-Nya”.
Kebendaan yang menjulurkan lidah-lidah. Lidah-lidah dengan tunas-tunas hijau
yang mau tumbuh. Lalu darinya tumbuh jadi dahan-dahan yang kuat dan banyak. Dan
di sana adalah dasar yang tepat.
Dasar tempat lahirnya buah yang ranum. Berwangi harum nan bertahta
lezat. Uh, ada yang lain lagi. Dari buah itu tiada biji. Biji itu telah lepas
lebih dulu. Dan menjadi tunas lidah-lidah baru yang makin banyak. Tumbuh dan
menjadi dahan-dahan. Tempat dilahirkannya kebaikan yang sudah lama tak
diyakini. Diyakini dengan kesungguhan. Semisal slogan yang manusia agungkan:
“kami perlu ini-itu, baru bisa kerja”.
Dan memang, tiada yang meyakini kebendaan-Nya. Jadi lupa.. Kecuali
sebagian saja. Hingga perlahan, di kesempatan yang lain, bunyi-bunyi aneh
memberi seruan-seruannya: “cepat… cepat pergi. Ada yang datang dari bayangan!” Seruan
itu hanya sehari saja. Di pagi sampai sore saja. Dan di malam yang jadi penidur
ulung, banyak yang tertidur. Tertidur dengan lelapnya di pusaran yang beku.
Beku tapi panas. Dan di pagi hari yang fajarnya menjadi terik, seruan itu
kembali: “waktunya untuk bangun!”
Mereka bangun seperti di pagi yang biasa. Sehari-hari. Dan mereka tahu
tentang janji. Janji yang menjadikan dua. Dua yang membeda dan berseberangan.
Yang meyakini dan yang tak meyakini. Dan untuk yang meyakini kebendaan-Nya, ada
yang menunggu di seberang sana. Di tempat yang rasanya dekat dan menyejukkan.
Yang setia dan selalu menunggu kehadiran yang ditunggu. Dan sangat merindu.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar