Udara menipis di ujung malam. Dinginnya mampu menidurkan manusia. Tidur yang dalam. Hanya saja malam ini jadi sebuah malam paling panas. Bagiku, yang menguap. Hembus udara tipis enggan menyentuh. Berdiri terkekeh di seberang memandang pada arahku. Tapi kenapa aku tidak bisa mendengar. Semuanya. Kekehan itu membuat tuli. Telingaku tuli. Mulutku jadi berdiam diri. Aku bisu. Tangan dan kaki membatu menghalangi gerakku menerjang. Aku lumpuh. Dan mengeranglah aku pada panasnya malam.
(Madura, April
2012)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar