Hei, aku ingin bercerita. Cerita yang kutulis sendiri dengan jejak-jejak. Jejak yang begitu ringan namun bekasnya tak mau hilang di makan waktu. Ya, mana ada waktu yang bisa memakan jejak-jejakku? Jejak yang bersamanya ada tetesan peluh. Pun darah pula. Yang terkadang, tetesan itu mewarna dalam jejakku. Merah. Hitam. Putih. Dan oranye.
Warna-warna itu juga pernah membuatku jengkel. Jengkel karena dalam warna itu aku tampak lebih tua. Makin tua di tiap aku melihatnya lagi. Dan karena itu, aku tak peduli lagi pada penampakanku dalam wana-warna itu. Aku jadi begitu terbiasa untuk tidak merias. Tak ada yang perlui dirias. Membuang waktu saja.
Itu pula yang menjadikanku tak lagi melihat orang dari fisiknya. Orang bisa saja tua dengan sedirinya. Toh, kalau menawan itu tak akan lama. Beberapa waktu saja. Karena waktu suka membuat orang yang mengabdi pada fisik sempurna jadi tak senang. Memang begitulah waktu. Yang kini membiasakan diri untuk berteman dengan jejak-jejakku yang berwana.
(Bangkalan, 2012)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar