Kepingan yang meretak senja pada kaki gunung
keresahaan
Kami bersuara:
Sendu mimik rupa senyum menggambar rasa takut. Gagal dalam usaha. Dari
bilik kekang rupa kelaki-lakian kekuasaan. Engkau melukis panorama berwujud
fajar dunia. Tanda segala kemalangan ‘kan sirna mengawalkan diri. Dari bilik
berpapan kayu beraroma angsa putih. Engkau terbang bersinar merendah. Enggan
jauh merantaukan tubuh mewangi cempaka. Jepara. Masih menyinari Indonesia dari
gelap gemerlap kesetaraan.
Sembah hormat dari kami yang melupa sejenak sinar pancaran
dari Sang Ibu. Turut sungkan tanah pembaringan kaum perempuan. Malu-malu
sembunyi menunduk sendu. Di sampingnya, nelangsa berduka. Lirih ucapnya
mengiris sepi tumpukan nisan. “Engkau dan aku satu hati”.
Saat itu pula langit berkabut merah. Setiap mata yang
menerawang langit berubah merah. Kulit, lidah, rambut, bahkan organ dalam
bermandikan merah. Sedetik, sepi jadi sunyi lalu waktu mengabur. Perempuan
berganti kelamin. Laki-laki memakai rok. Dunia kembali normal. Berjalan
terbalik.
Angin yang sering berlarian melihatnya. Beku tiba-tiba. Ah,
rupanya dia tidak kuat melihat fenomena ini. Mati. Angin mati! Angin mati!
Angin mati! Semesta langit kelabakan. Siapa mau jadi pengganti! Saling tuding.
Saling dituding. Saling menuding. “Tak perlu cari pengganti”. Suara gelegarnya
menyatukan arah. “Biar aku urus ini”. Berlalu mengilat.
Temaram kembali. Kali ini dia meraja karena angin mati.
Musuh yang meniadakan jadi pergi. Udara jadi tuba. Laki-laki yang peremuan dan
perempuan yang laki-laki saling pandang. Mereka jadi cermin untuk
masing-masing. Matung. Mematung. Dipatung. Semenit, sunyi jadi senda. Senda
jadi ratap. Ratap jadi tangis. Lalu dari sana angin bangkit menertawakan semua.
“Aku sudah mengurus ini”.
Temaram sirna. Dunia jadi normal semestinya. Laki-laki dan
perempuan bergandengan menuju sebuah persinggahan. Surga.
(Madura, April 2012)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar