Minggu, 10 September 2017

#

Kayu Yang Hanyut

unsplash.com/photos/TkrRvwxjb_8

Sebuah kayu berlubang hanyut di sungai. Dalam hanyutnya itu, kayu berpesan pada riak air sungai untuk melambat. Ia ingin menggapai malam dengan perlahan. Lalu sungai, yang berkuasa, lebih dulu menegur. Dengan arus dihamburkannya yang tersisa. Kayu itu koyak. Dan luka ditubuhnya tak lagi satu. Banyak. Menyerupai sarang. Sarang yang tak lagi ditempati

Matahari hanya menjenguknya sesaat. Ia baru saja dijemput mendung. Dan hanya ada air mata. Gerimis yang liris. Hingga isaknya terdengar sampai bawah tanah. Mengusik cacing-cacing yang sedang menggembur tanah. Memaksa untuk segera tengadah pada permukaan. Di atas sana sedang menunggu takdir yang lain. Para pemburu. Ia senantiasa menunggu. Menunggu yang terdesak untuk muncul. Muncul dengan rasa bingung.

Di atas sana tak ada lagi permukaan yang dulu. Berganti dengan genang. Genang yang berwarna merah. Merah darah yang menyala. Sedang di langit masih ada raut masam. Dan isak itu juga masih ada. Menggema lalu muncul lagi. Bersautan tambah nyaring. Namun bagi kayu yang teronggok di bawah sana. Ujung tanah masih seperti dulu. Masih menerimanya dengan hangat. Di waktu terakhirnya ada.


(Bangkalan, April 2013)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Follow Me @orangkomidi