Sebuah kayu berlubang hanyut di sungai. Dalam hanyutnya itu, kayu berpesan pada riak air sungai untuk melambat. Ia ingin menggapai malam dengan perlahan. Lalu sungai, yang berkuasa, lebih dulu menegur. Dengan arus dihamburkannya yang tersisa. Kayu itu koyak. Dan luka ditubuhnya tak lagi satu. Banyak. Menyerupai sarang. Sarang yang tak lagi ditempati
Matahari hanya
menjenguknya sesaat. Ia baru saja dijemput mendung. Dan hanya ada air mata. Gerimis
yang liris. Hingga isaknya terdengar sampai bawah tanah. Mengusik cacing-cacing
yang sedang menggembur tanah. Memaksa untuk segera tengadah pada permukaan. Di
atas sana sedang menunggu takdir yang lain. Para pemburu. Ia senantiasa
menunggu. Menunggu yang terdesak untuk muncul. Muncul dengan rasa bingung.
Di atas sana tak ada
lagi permukaan yang dulu. Berganti dengan genang. Genang yang berwarna merah.
Merah darah yang menyala. Sedang di langit masih ada raut masam. Dan isak itu
juga masih ada. Menggema lalu muncul lagi. Bersautan tambah nyaring. Namun bagi
kayu yang teronggok di bawah sana. Ujung tanah masih seperti dulu. Masih
menerimanya dengan hangat. Di waktu terakhirnya ada.
(Bangkalan, April
2013)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar