Dari sebuah buku aku kutip sebuah kalimat. Kalimat dengan suara yang menghisap kesadaranku. Kalimat yang terkadang menarikku dalam sebuah dimensi ketidak-tahuan. Di dalamnya ada rubah yang bermain dengan api. Lalu burung yang berkicau dengan lancarnya dan diikuti pula oleh bayangan. Bayangan dengan jumlah yang tak dapat dihitung. Satiap hari pasti ada bayangan baru. Muncul dan berkelebat dengan tenang.
Dan bayangan itu berwarna hitam, lalu putih, lalu hitam lagi, dan putih lagi. Ada semacam siklus yang berkejaran. Yang terkadang membawa sebuah keranjang. Keranjang berwarna biru. Biru dengan semburat putih. Lalu di atas keranjang bersarang laba-laba. laba laba dengan huruf G dan Y. Katanya, keduanya mengawali peradaban.
Sedang di bawah. Di dekat tanah yang gersang berlapis pasir. Segerombolan semut hitam menghampiri sehelai daun. Daun berwarna jingga. Yang dilukis seorang bocah di malam kemarin. Dan di dekat daun, seekor belalang sedang sekarat. Digotong ia bersama daun berwarna jingga. Menuju sebuah lubang. Lubang hitam berlapis madu. Madu yang juga berwarna jingga.
(Sumenep, 2013)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar