Selasa, 09 Mei 2017

#

Biografi Kecil

unsplash.com/photos/9UZAgReiE0Y

Di seberang sana ada kaki-kaki kecil yang melintasi bukit. Bukit dengan satu bulan yang tak purnama. Semisal hitungan, ia setengah perjalanan. Di dekat bukit mengalir sungai dengan dua muara. Kiri. Kanan. Di antaranya ada patung yang tegak. Sebuah patung bersayap tanpa kepala. Sedang sayapnya selalu bercahaya di malam hari. Kuning emas.

Kuning emas yang bercahaya dengan indah. Di malam itu, hujan seakan singgah di tempat jauh. Mungkin saja bosan. Pula bertemunya bumi dan langit beberapa meter saja. Jadi kaki langit di ujung bumi. Bernaungnya makhluk. Lalu seberkas bintang melintas. Ia jatuh dihamparan lagit malam. Dan terdengar suara erangan. Erangan para tetua yang dulu.

Tetua yang melahirkan hukum. Mengubah api jadi air. Namun kini berbalik. Air jadi api. Lalu bertebaran pula, kayu jadi api. Batu jadi api. Dan kaki-kaki kecil yang melintasi bukit kembali ke asalnya. Air yang mengalir dari sungai. Mengalir ia ke muara. Kiri. Kanan. Menjelma api yang membakar.


(Sumenep, 2013)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Follow Me @orangkomidi