Yang diajarkan adalah arah yang menyamping. Berbeda namun sedikit miring. Miring dan menyerupai piring pecah yang dilempar. Tarr... Sering tak ada yang utuh ketika berbunyi. Bunyi yang berderap. Susul-menyusul. seperti gulungan ombak dan buihnya. Menyamping namun sedikit miring. Dan selalu menanti. Menanti yang terbang dan mendarat. Yang ketika malam suka bernyanyi dan memainkan suling. Merdu dan membawa aura dingin. Dingin yang mencekam.
Lalu, kebiasaanmu yang telah menjadi tubuh itu,
kembali berulah. Melingkar di kejauhan dan menghilang di pohon-pohon. Pohon
yang tak berdaun dan tak berakar. Karena, katanya, pohon itu suka sekali
tertawa di dalam hatimu. Dan kamu menyukainya. Dan aku juga. Kita saling suka.
Suka dan saling memperhatikan. Sejoli yang ditakdirkan membeda. Pisah dan saling
menjauh.
Karenanya, munajatmu yang dilantunkan tadi
pagi, kusambung dan kuikat dengan kabut dan tetesan embun. Segar. Yang disusun
dari sumsum tulang belakangmu dan tulang rusukku yang dipatahkan oleh laki-laki.
Yang berjalan di subuh dan menghilang di fajar. Lalu, tangismu yang lucu, yang
tak mengeluarkan air mata, menatapku ke jantungku. Dan di dalamnya, kamu
berulah. Melempari ember-ember cat dan kantong semen kosong. Membangun sesuatu
di jasadku.
Selebihnya kamu kembali tertawa sambil menutup
pintu. Pintu yang tak berdaun. Yang bolong dan seringkali diajak angin untuk
bermain. Main ular-tangga. Yang licin dan berbau politik. Dan ketika sudah
selesai, pintu pasti roboh. Ke tanah yang berwarna gelap. Gelap dan luka. Luka
yang menyimpang. Membuka sendiri lalu menutup sendiri. Seperti tubuh keong yang
miring. Yang membawa rumah dan WC-nya. Dan ketika waktunya, tinggal duduk dan ngumpet. Melepas semua sampai tuntas.
(Bangkalan,
2013)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar