Rabu, 23 Agustus 2017

#

Menyamping dan Miring

unsplash.com/photos/eZC5I4ozAMA

Yang diajarkan adalah arah yang menyamping. Berbeda namun sedikit miring. Miring dan menyerupai piring pecah yang dilempar. Tarr... Sering tak ada yang utuh ketika berbunyi. Bunyi yang berderap. Susul-menyusul. seperti gulungan ombak dan buihnya. Menyamping namun sedikit miring. Dan selalu menanti. Menanti yang terbang dan mendarat. Yang ketika malam suka bernyanyi dan memainkan suling. Merdu dan membawa aura dingin. Dingin yang mencekam.

Lalu, kebiasaanmu yang telah menjadi tubuh itu, kembali berulah. Melingkar di kejauhan dan menghilang di pohon-pohon. Pohon yang tak berdaun dan tak berakar. Karena, katanya, pohon itu suka sekali tertawa di dalam hatimu. Dan kamu menyukainya. Dan aku juga. Kita saling suka. Suka dan saling memperhatikan. Sejoli yang ditakdirkan membeda. Pisah dan saling menjauh.

Karenanya, munajatmu yang dilantunkan tadi pagi, kusambung dan kuikat dengan kabut dan tetesan embun. Segar. Yang disusun dari sumsum tulang belakangmu dan tulang rusukku yang dipatahkan oleh laki-laki. Yang berjalan di subuh dan menghilang di fajar. Lalu, tangismu yang lucu, yang tak mengeluarkan air mata, menatapku ke jantungku. Dan di dalamnya, kamu berulah. Melempari ember-ember cat dan kantong semen kosong. Membangun sesuatu di jasadku.

Selebihnya kamu kembali tertawa sambil menutup pintu. Pintu yang tak berdaun. Yang bolong dan seringkali diajak angin untuk bermain. Main ular-tangga. Yang licin dan berbau politik. Dan ketika sudah selesai, pintu pasti roboh. Ke tanah yang berwarna gelap. Gelap dan luka. Luka yang menyimpang. Membuka sendiri lalu menutup sendiri. Seperti tubuh keong yang miring. Yang membawa rumah dan WC-nya. Dan ketika waktunya, tinggal duduk dan ngumpet. Melepas semua sampai tuntas.


(Bangkalan, 2013)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Follow Me @orangkomidi