baru saja semai di hamparan,
ia senyap beberapa waktu
menyimak alunan deru angin
perihal kehidupan
dan air mata yang gemericiknya
melebihi debaran jantung yang ditautkan cinta
Dan tanah yang meranggas
tiba-tiba saja menyampaikan hikayat:
cita tiada mungkin tumbuh
pun hanya siratan di hamparan
ketika mata air telah sampai waktunya
dibekap derita berkepanjangan
Namun bunga adalah bunga itu sendiri
setiap kali sampai waktunya tumbuh
tiada 'kan yang menghalangi
karena rintik telah menghadirkan basah
di tiap mereka yang punya cita
di hadiahkannya pula sebagian rahmat-Nya
(Bangkalan, 2015)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar