Kami mendengar tangis di sini. Tangis yang memilukan. Bukan dari manusia. Ini sesuatu yang lebih membuatku terhanyut dalam duka. Rumah kami menangis. Rumah yang kami tinggali menangis tiap hari. Pagi-petang-pagi. Kami tak mampu membuatnya diam. Pun tersenyum.
Ada yang salah dari tangisnya itu. Tangis itu mengarah pada kami. Kami yang berteduh di dalamnya. Rumah tempat berteduh. Tempat mencari nafkah pula. Nafkah yang terkadang terasa getir. Ada rasa enggan ketika mendapatkannya. Enggan yang membuat kami ketika makan berkata: ini tangis ‘kan terus ada.
Ah, kami jadi mati kutu. Diam namun tak dapat mengubah. Dan diam kami adalah anugerah bagi tuan. Tuan yang memberi kehidupan. Kehidupan dalam rumah kami ini. Rumah yang mewajibkan kami tampil menggoda.
(Bangkalan, 2012)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar